Geng Nero

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Geng Nero, geng ABG di Pati tiba-tiba menggegerkan. Kebrutalannya, cukup mencengangkan. Bayangkan puluhan perempuan yang rata-rata masih duduk dibagku SMP, kebrutalannya layaknya geng preman. Betapa tidak, prilaku beringas mereka seperti mencuat dari dalam bumi. Mereka yang tinggal jauh dari kehidupan keras seperti di kota-kota besar, tiba-tiba muncul prilaku yang jauh dari bayangan kita.

Kita terlalu sering disentakkan oleh paparan temuan berita tentang fenomena bias pergaulan di kalangan remaja. Yang paling aktual adalah beredarnya rekaman video kekerasan oleh sekelompok pelajar putri di Juwana, Pati. Sejumlah pertanyaan bernuansa introspeksi pun lagi-lagi mengusik semua yang merasa sebagai orang tua. Baca Lanjutannya…

Fenomena ‘Hade’

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Pasangan Ahmad Heryawan (PKS) dan Dede Jusuf (PAN), Hade, memenangi pemilihan gubernur Jawa Barat. Kemenangan ini dianggap luar biasa, karena pasangan ini harus  melawan calon yang diusung oleh partai-partai besar, seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, PDIP, PKB, PPP, PBB, dan lain sebagainya. Namun kenyataannya, waktu telah membalik. Calon dari partai-partai bersar itu tumbang dengan perbedaan  yang cukup fantastis.

Kemenangan ini serta merta dikatakan sebagai kemenangan kaum muda, karena kedua calon itu representasi dari politikus muda. Ada juga yang menilai, banyak pemilih yang sudah bosan dengan figure-figur ‘Orde Baru’ alias politikus tua yang kolot dan tidak reformis. Sementara Hade dianggap mengusung semangat perubahan. Tidak hanya itu, kemenangan Hade dianggap refleksi peta kekuatan Pilpres 2009.

Sungguh, semua sah-sah saja memprediksi dan menilai kemenangan Hade. Memang, bisa jadi kemenangan Hade akan menjadi inspirasi dari Pilgub di daerah-daerah lain, bahwa figur-figur yang muda, smart, dan resistensi konfliknya rendah, sedang dicarai oleh konstituen. Bisa jadi pemilih (rakyat) sudah jenuh dengan pola pikir politikus-politikus tua, apalagi yang berbau Orba. Baca Lanjutannya…

Reformasi Media Massa

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat telah mengingatkan tayangan-tayangan televisi swasta dan meminta masyarakat untuk mewaspadai 10 program acara yang  ditayangkan sembilan stasiun TV swasta nasional Indonesia.

Ke- 10 program acara TV tersebut yaitu: Cinta Bunga (SCTV), Dangdut Mania Dadakan 2 (TPI), Extravaganza (TransTV), Jelita (RCTI), Mask Rider Blade (ANTV), Mister Bego (ANTV), Namaku Mentari (RCTI), Rubiah (TPI), Si Entong (TPI), dan Super Seleb Show (Indosiar).

Program tayangan itu dinilai hanya sampah karena tidak mendidik. Penilaian itu diperoleh dari hasil pantauan KPI selama periode 1 – 13 April. Dan  ke-10 acara TV tersebut paling banyak melanggar Standar Program Siaran KPI, antara lain melanggar norma kesopanan dan kesusilaan dengan banyak menampilkan kekerasan, menampilkan kata-kata kasar, merendahkan, dan melecehkan orang lain.

Pemantauan dilakukan oleh 11 orang analis dari KPI dan ditetapkan berdasarkan evaluasi tim panelis indenpenden yang diketuai oleh Prof Dr Arief Rahman, Wakil Ketua Dedy Nur Hidayat, Seto Mulyadi, Nina Armando, Bobby Guntarto dan Razaini Taher. KPI menganalisis tiga jenis program tayangan TV dengan pertimbangan pengaduan masyarakat yang paling banyak yaitu sinetron, variety show, dan acara anak. Baca Lanjutannya…

Kebenaran

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Ada cerita pendek yang tak pernah saya lupakan. Bukan saja diskripsi karakter tokoh-tokohnya, seperti Ajo Sidi (Pembual) dan Haji Soleh (Penjaga Surau) yang kuat, tetapi ceritanya juga sangat menohok pikiran dan bahkan keyakinan. Betapa tidak, cerita pendek karangan A.A Navis, berjudul ‘Robohnya Surau Kami’ menyindir bahkan menuding, umat muslim yang hanya mengurusi akherat tetapi melupakan dunia. Ini soal kebenaran dan keyakinan.

Tidak tanggung-tanggung, A.A. Navis dalam ceritanya itu menggambarkan orang-orang yang taat beribadah malah masuk neraka. Katanya, Tuhan murka, karena orang yang kusuk beribadah melupakan kehidupan sosialnya, sehingga kehidupannya sendiri merana.

Padahal, Tuhan telah menciptakan bumi beserta isinya untuk kehidupan umatnya. Namun nyatanya banyak umat muslim yang melulu mengurusi akherat, daripada mengurusi keluarganya yang miskin.

Di dalam setiap cerpennya, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu – yang masih relevan di masa sekarang ini.

Cerpen ‘Robohnya Surau Kami’ bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil) di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia – si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Baca Lanjutannya…

Bima Suci

Oleh : Rakhmat Giryadi

Kata guru agama saya, Islam disebarkan masuk ke bumi nusantara dengan jalan damai. Di Jawa ada tokoh yang masyhur dalam proses penyebaran Islam yaitu wali sanga (sembilan wali). Kata guru saya, salah satu cara yang mereka tempuh dalam menyebarkan Islam yaitu melalui akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal.

Karena waktu itu saya masih duduk di sekolah dasar, maka saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan akulturasi dan budaya lokal. Beruntung sekali guru agama saya itu orangnya lucu (tidak galak seperti guru matematika), sehingga agama yang menurut pandangan saya begitu rumit menjadi mudah dipahami.

Cerita guru agama saya, Islam di Jawa disebarkan dengan pendekatan budaya. Salah satunya melalui kesenian wayang yang disisipi nilai-nilai Islami. Wayang yang telah menjadi pokok ajaran bagi orang jawa, oleh para wali terutama Sunan Giri, sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dimasukan ajaran-ajaran Islam. Bahkan, kata guru agama saya, pergelaran wayang, mulai dari A sampai Z mencerminkan sibulisasi ajaran Islam.

Mengingat wayang bukanlah produk kesenian islam, melainkan warisan seni yang mengandung unsur ajaran Hindu-Budha, maka para wali memasukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Sehingga dengan pertunjukan wayang, masyarakat akan terketuk hatinya untuk melaksanakan pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Sehingga masyarakat dapat membedakan tindakan yang benar dan salah, pantas dan tidak pantas. Di dalam wayang, manusia juga dapat melihat sejauh mana penyimpangan dilakukan manusia yang diangkat sebagai pemimpin (khalifah). Sejauh mana orang telah meninggalkan “uger-uger” atau petuah etika jawa dari hari ke hari dan seterusnya. Baca Lanjutannya…

Jangan Takut ‘Golput’

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Jadi pemimpin, contohlah Wibisana. Wibisana menghabiskan masa mudanya dengan bertapa dan memuja Wisnu. Ketika Rahwana dan Kumbakarna bertapa memuja Brahma, Wibisana juga berbuat demikian. Wibisana adalah adik kandung Rahwana. Wibisana merupakan putera bungsu dari Resi Wisrawa, putera Resi Pulatsya, dengan seorang puteri Detya bernama Kekasi.

Wibisana memiliki tiga saudara kandung, bernama Rahwana, Kumbakarna, dan Surpanaka. Di antara saudaranya, Wibisana adalah anak yang paling baik. Sifatnya tidak seperti raksasa pada umumnya meskipun ia merupakan keturunan rakshasa. Baca Lanjutannya…

‘Fitna’ itu Fitnah

Oleh : Rakhmat Giryadi 

Fitnah itu bergunjing. Karena hanya hanya bergunjing, maka fitnah selalu tidak mempunyai bukti. Biasanya, alibinya katanya itu, katanya ini, katanya dia, katanya mereka. Fitnah sering tidak pakai logika, karena biasanya si pemfitnah lebih mengedepankan kedongkolan hatinya. Tidak hanya itu si pemfitnah biasanya orang yang tidak berdaya, tidak pede, dan orang yang picik.Memfitnah cenderung sembarangan. Logika tidak dipakai lagi. Apalagi hati nurani. Fitnah itu penyakit hati. Orang yang suka memfitnah dikatakan orang yang suka sakit hati.

Menanggapi fitnah sama dengan menanggapi orang yang tidak waras. Karena itu menanggapi fitnah kita malah ikutan tidak waras.Gunjingan film ‘Fitna’ buatan politikus Belanda, Geert Wilders, yang menuding Islam dan Al Quran dianggap sebagai biang keladi kekerasan di dunia ini, adalah fitnah. Karena itu tidak pantas film itu ditanggai berlebihan. Karena biasanya fitnah itu memang sengaja memancing ‘lawannya’ bereaksi. Kalau sudah bereaksi, bisanya sang lawan sangat mudah ditaklukan.Fitnah memang bisa memancing amarah. Baca Lanjutannya…

Yudhistira, Ajari Kami Tentang Kejujuran

Oleh : Rakhmat Giryadi 

Carikan satu saja, pemimpin yang jujur! Satu saja, tidak perlu 2, 3, atau lebih. Kalau ada, tolong sarankan dia tidak masuk dalam ranah kekuasaan. Tetapi tahukah Anda, betapa sulitnya mencari pemimpin yang jujur! Apalagi adil! Jangankan dua, satu saja kita sulit sekali mendapatkannya. Meski dapat, tak lama kemudian tiba-tiba ia terlibat atau dilibatkan skandal. Sepertinya memang susah sekali mencari pemimpin yang jujur dan adil. Bayangkan saja untuk mendapatkan pemimpin semacam itu, anggota dewan harus berkeringat dingin menguji para calon pemimpin. Tidak hanya satu atau dua hari, tapi bisa berhari-hari. Belum lagi kalau pemilihan itu masuk dalam ranah politik. Tambah ruwet. Baca Lanjutannya…

Asal usil

Indonesia Raya Asli

Menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus, ada ‘kado istimewa’ dari Roy Suryo, pakar telematika. Ia berserta tim ’Air Putih’ mengaku telah menemukan teks lagu kebangsaan Indonesia Raya versi lain. Tentu hal ini memancing polemik. Apalagi beberapa pelaku sejarah dan kolektor mengaku penemuan Roy Suryo ini bukanlah hal baru. Des Alwi mengklaim memiliki yang lebih asli dan otentik, karena dia sendiri yang telah memproduserinya.
Namun bagi Roy Suryo, bukan masalah penemuannya, tetapi sejarah merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya, karena itu penemuan itu perlu dipublikasikan ke publik, tidak disimpan bahkan menjadi milik pribadi. Karena pada dasarnya merekalah yang memiliki sejarah. Baca Lanjutannya…

‘Jakarta Undercover ‘, Problim Filosofis di Tengah Perayaan Revolusi

Oleh : R Giryadi
Sepanjang sejarah, pemikiran tentang seks memang masih kurang mendapat perhatian. Baru pada pemikir Sigmund Freud, seksualitas dalam arti filosofi mendapat perhatian yang cukup serius. Claude Levi Strauss, Michel Foucault, mengungkapkan banyak tentang seks yang bisa menyingkap berbagai hal tentang eksistensi manusia.
Dan terbukti bahwa seks memang bisa mengungkap banyak hal tentang manusia, karena manusia seluruhnya adalah seksual. Seluruh tingkah lakunya selalu diresapi oleh identitas seksnya yaitu gradasi kelelakian atau keperempuan seseorang.
Karenanya mempelajari misteri seks berarti mempelajari keseluruhan proses pembentukan diri. Sebagai sebuah fenomena, lantas seks memiliki fonemena yang multidimensi. Fenomena itu menyangkut aspek biologis, psikologis, sosial, behavioral, klinis, maupun sosio-kultural. Aspek-aspek itu semuanya terintegrasi dalam prilaku seksual manusia. Baca Lanjutannya…