Bima Suci

Oleh : Rakhmat Giryadi

Kata guru agama saya, Islam disebarkan masuk ke bumi nusantara dengan jalan damai. Di Jawa ada tokoh yang masyhur dalam proses penyebaran Islam yaitu wali sanga (sembilan wali). Kata guru saya, salah satu cara yang mereka tempuh dalam menyebarkan Islam yaitu melalui akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal.

Karena waktu itu saya masih duduk di sekolah dasar, maka saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan akulturasi dan budaya lokal. Beruntung sekali guru agama saya itu orangnya lucu (tidak galak seperti guru matematika), sehingga agama yang menurut pandangan saya begitu rumit menjadi mudah dipahami.

Cerita guru agama saya, Islam di Jawa disebarkan dengan pendekatan budaya. Salah satunya melalui kesenian wayang yang disisipi nilai-nilai Islami. Wayang yang telah menjadi pokok ajaran bagi orang jawa, oleh para wali terutama Sunan Giri, sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dimasukan ajaran-ajaran Islam. Bahkan, kata guru agama saya, pergelaran wayang, mulai dari A sampai Z mencerminkan sibulisasi ajaran Islam.

Mengingat wayang bukanlah produk kesenian islam, melainkan warisan seni yang mengandung unsur ajaran Hindu-Budha, maka para wali memasukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Sehingga dengan pertunjukan wayang, masyarakat akan terketuk hatinya untuk melaksanakan pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Sehingga masyarakat dapat membedakan tindakan yang benar dan salah, pantas dan tidak pantas. Di dalam wayang, manusia juga dapat melihat sejauh mana penyimpangan dilakukan manusia yang diangkat sebagai pemimpin (khalifah). Sejauh mana orang telah meninggalkan “uger-uger” atau petuah etika jawa dari hari ke hari dan seterusnya. Baca lebih lanjut

Jangan Takut ‘Golput’

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Jadi pemimpin, contohlah Wibisana. Wibisana menghabiskan masa mudanya dengan bertapa dan memuja Wisnu. Ketika Rahwana dan Kumbakarna bertapa memuja Brahma, Wibisana juga berbuat demikian. Wibisana adalah adik kandung Rahwana. Wibisana merupakan putera bungsu dari Resi Wisrawa, putera Resi Pulatsya, dengan seorang puteri Detya bernama Kekasi.

Wibisana memiliki tiga saudara kandung, bernama Rahwana, Kumbakarna, dan Surpanaka. Di antara saudaranya, Wibisana adalah anak yang paling baik. Sifatnya tidak seperti raksasa pada umumnya meskipun ia merupakan keturunan rakshasa. Baca lebih lanjut

‘Fitna’ itu Fitnah

Oleh : Rakhmat Giryadi 

Fitnah itu bergunjing. Karena hanya hanya bergunjing, maka fitnah selalu tidak mempunyai bukti. Biasanya, alibinya katanya itu, katanya ini, katanya dia, katanya mereka. Fitnah sering tidak pakai logika, karena biasanya si pemfitnah lebih mengedepankan kedongkolan hatinya. Tidak hanya itu si pemfitnah biasanya orang yang tidak berdaya, tidak pede, dan orang yang picik.Memfitnah cenderung sembarangan. Logika tidak dipakai lagi. Apalagi hati nurani. Fitnah itu penyakit hati. Orang yang suka memfitnah dikatakan orang yang suka sakit hati.

Menanggapi fitnah sama dengan menanggapi orang yang tidak waras. Karena itu menanggapi fitnah kita malah ikutan tidak waras.Gunjingan film ‘Fitna’ buatan politikus Belanda, Geert Wilders, yang menuding Islam dan Al Quran dianggap sebagai biang keladi kekerasan di dunia ini, adalah fitnah. Karena itu tidak pantas film itu ditanggai berlebihan. Karena biasanya fitnah itu memang sengaja memancing ‘lawannya’ bereaksi. Kalau sudah bereaksi, bisanya sang lawan sangat mudah ditaklukan.Fitnah memang bisa memancing amarah. Baca lebih lanjut

Yudhistira, Ajari Kami Tentang Kejujuran

Oleh : Rakhmat Giryadi 

Carikan satu saja, pemimpin yang jujur! Satu saja, tidak perlu 2, 3, atau lebih. Kalau ada, tolong sarankan dia tidak masuk dalam ranah kekuasaan. Tetapi tahukah Anda, betapa sulitnya mencari pemimpin yang jujur! Apalagi adil! Jangankan dua, satu saja kita sulit sekali mendapatkannya. Meski dapat, tak lama kemudian tiba-tiba ia terlibat atau dilibatkan skandal. Sepertinya memang susah sekali mencari pemimpin yang jujur dan adil. Bayangkan saja untuk mendapatkan pemimpin semacam itu, anggota dewan harus berkeringat dingin menguji para calon pemimpin. Tidak hanya satu atau dua hari, tapi bisa berhari-hari. Belum lagi kalau pemilihan itu masuk dalam ranah politik. Tambah ruwet. Baca lebih lanjut

Asal usil

Indonesia Raya Asli

Menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus, ada ‘kado istimewa’ dari Roy Suryo, pakar telematika. Ia berserta tim ’Air Putih’ mengaku telah menemukan teks lagu kebangsaan Indonesia Raya versi lain. Tentu hal ini memancing polemik. Apalagi beberapa pelaku sejarah dan kolektor mengaku penemuan Roy Suryo ini bukanlah hal baru. Des Alwi mengklaim memiliki yang lebih asli dan otentik, karena dia sendiri yang telah memproduserinya.
Namun bagi Roy Suryo, bukan masalah penemuannya, tetapi sejarah merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya, karena itu penemuan itu perlu dipublikasikan ke publik, tidak disimpan bahkan menjadi milik pribadi. Karena pada dasarnya merekalah yang memiliki sejarah. Baca lebih lanjut

‘Jakarta Undercover ‘, Problim Filosofis di Tengah Perayaan Revolusi

Oleh : R Giryadi
Sepanjang sejarah, pemikiran tentang seks memang masih kurang mendapat perhatian. Baru pada pemikir Sigmund Freud, seksualitas dalam arti filosofi mendapat perhatian yang cukup serius. Claude Levi Strauss, Michel Foucault, mengungkapkan banyak tentang seks yang bisa menyingkap berbagai hal tentang eksistensi manusia.
Dan terbukti bahwa seks memang bisa mengungkap banyak hal tentang manusia, karena manusia seluruhnya adalah seksual. Seluruh tingkah lakunya selalu diresapi oleh identitas seksnya yaitu gradasi kelelakian atau keperempuan seseorang.
Karenanya mempelajari misteri seks berarti mempelajari keseluruhan proses pembentukan diri. Sebagai sebuah fenomena, lantas seks memiliki fonemena yang multidimensi. Fenomena itu menyangkut aspek biologis, psikologis, sosial, behavioral, klinis, maupun sosio-kultural. Aspek-aspek itu semuanya terintegrasi dalam prilaku seksual manusia. Baca lebih lanjut

Asal Usil

Festival (Tanpa) Seni Surabaya

Oleh : Rakhmat Giryadi

Kalau Anda menerima katalog Festival Seni Surabaya (FSS) 2007 yang telah berakhir 15 Juni lalu jeli, sebenarnya di cover katalog itu ada kekeliruan. Dalam cover itu tertulis besar Festival Seni Surabaya 2007 dengan tema Peradaban Baru. Namun sebenarnya kata ‘Seni’ yang tertera dalam akronim FSS itu tidak ada. Kalau ada, kata ‘Seni’ itu hanya tempelan saja. Apa artinya ini?

Secara berseloroh, ada yang mengatakan karena dalam festival itu hampir tidak ada penyaji dari Surabaya. Kalaupun ada prosentasenya tidak sebanding dengan penyaji di luar Surabaya (Jawa Timur). Tetapi hal itu tidaklah debadtable. Karena memang pada dasarnya FSS yang digelar sejak 1996 dan sempat vakum beberapa kali itu diformat untuk ajang seni yang bersekala nasional. Cak Kadaruslan sebagai Ketua Yayasan Seni Surabaya (Penyelenggara FSS, pen) selalu menegaskan, FSS diselenggara sebagai etalase seni yang modern, inovatif, kreatif, dan apresiatif. Meskipun dari Surabaya (Jawa Timur) kalau tidak bersetandar itu, tentu tidak dimasukan dalam agenda festival. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.