‘Mutilasisme’

Oleh : R Giryadi

Mutilasi menjadi teror. Mutilasi dalam bentuk nyatanya membunuh dengan cara ‘memretheli’ tubuh kurban. Kejahatan semacam ini bisa jadi hanya dilakukan oleh satu atau dua orang. Tidak bergerombol. Tapi ada mutilasi yang dilakukan secara bergerombol, terorganisir, dan massif. Penegak hukumpun kuwalahan menangani mutilasi yang satu ini. Apa itu?
Memutilasi uang rakyat, alias korupsi. Sekarang korupsi tidak sembunyi-sembunyi. Kisah curi uang rakyat dari balik meja, sudah tidak bonafide. Mutilasi yang paling keren di jaman modern ini dilakukan terang-terangan, bahkan dilakukan secara berjamaah. Tragisnya lagi, cara memutilasi uang rakyat diperagakan di depan penegak hukum.
Ini mutilasi paling keji yang ada di Indonesia. Uang rakyat dijadikan mainan oleh sebagian elit politik di dewan dan di lembaga penegak hukum. Di lembaga pemerintahan tidak kalah parahnya. Ini juga bisa disebut sebagai pembunuhan berencana dan terorganisir. Bukankah akibat korupsi, banyak rakyat sengsara, miskin. Akibat kemiskinan, mutilasi dalam arti sebenarnya terjadi. Ingat, Ryan membunuh korban-korbannya karena factor ekonomi. Bukan asmara, atau penyakit lainnya.
Akibat mutilasi uang negara trilyunan rupiah hilang. Rakyat miskin hanya kebagian recehan yang dilempar dari balik mobil mewah, sembari sang empunya memohon doa agar terbebas dari jerat hukum dan banyak rejeki.
Maka, berbondong-bondonglah para duafa itu ke kota. Mereka menengadahkan tangan, seolah-olah rejeki jatuh dari mobil-mobil mewah. Sementara para politisi di Senayan ribut soal undang-undang untuk menyelamatkan muka mereka yang sudah terkadung coreng-moreng oleh ketamakan.
Partai-partai didirikan. Bendera-bendera dipasang. Bukan untuk rakyat, tetapi alat untuk berkuasa. Setekah berkuasa, ganti menjajah rakyat. Ganti yang korup. Ganti yang memutilasi. Rakyat hanya boleh bersuara saat pemilu. Tidak bersuara, dianggap subversip! Mereka hanya diiming-iming Rp 5 ribu dan kaos. Itulah pendapatan mereka setiap lima tahun sekali. Setelah itu mereka tidak tahu, kemana perginya uang negara?
Rakyat bahkan sudah dimutilasi hak-haknya. Partai-partai hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Omong kosong kalau berjuang demi rakyat. Kalaupun ada, itu partai yang keblinger. Partai yang tidak mungkin ada di negeri ini.
Kata Pujangga Ronggowarsito, ‘anemahi jaman edan, yen orang edan ora keduman.’ Tetapi ingat, ‘Sak bejo-bejaning wong edan, isih bejo wing eling lan waspada.’ Artinya dijaman edan seperti ini tidak akan mendapatkan apa-apa kalau tidak ikut edan. Tetapi, meski mendapatkan keuntungan dari mengikuti jaman, masih untung orang yang tetap ‘ingat (berdoa) dan ‘waspada’ (jujur).’
Ryan, dan para koruptor yang terjerat masalah hukum orang yang tidak tahan godaan di jaman edan ini. Mereka orang-orang yang dengan sadis memanfaatkan jaman gila ini. Bayangkan untuk bebas dari jerat hukum saja, Ayin harus menyogok jaksa Rp 6 milyar. Demi mendapat keuntungan pribadi, DPR mau saja disogok oleh pejabat daerah.
Tidak saja uang, tetapi disogok perempuan. Hemmmm, sungguh pelecehan yang luar bisa terhadap suara rakyat yang telah dibebankan pada pundaknya. Ini mutilasi suara yang lebih keji dari pada yang di lakukan Ryan. Hukumnya jelas, mati. Tetapi siapa yang bisa menjerat anggota dewan, kalau kejaksaan agung saja sarangnya korupsi? Siapa yang percaya lagi dengan penegakan hukum di negeri ini?
Pasti hanya orang tua kurban Ryan. Ryan pasti dihukum maksimal, karena pasti tidak akan mampu menyogok polisi, ataupun jaksa. Ryan pasti akan dijerat hukum maksimal. Ini prestasi besar!
Sungguh sangat nyata. Kita sudah terjangkit faham mutilasi (‘mutilasisme’). Mutilasi telah menjadi teror diberbgai sisi kehidupan kita. Tak tanggung-tanggung, pembunuhan secara pelan-pelan memreteli satu demi satu hak-hak warga negara sedang berlangsung. Negeri ini sudah menjadi negera terkorup ke 3 di dunia. (kalau diikutkan Olimpiade mendapat medali perak).
200 juta jiwa siap kelaparan. Sementara politisi muda dan tua sedang saling berebut meraih simpati rakyat yang sedang sekarat untuk pemilu 2009. Tetapi berani sumpah, mereka hanya baik di awalnya. Tetapi dikemudian hari?

Artalyta

Oleh : R Giryadi
Hari-hari ini nama Artalyta Suryani alias Ayin, begitu popular. Palingtidak dikalangan telinga penegak hukum nama itu sudah cukup akrab. Namun jangan sok akrab dengan nama ini, karena bisa-bisa anda terseret dalam kasus yang menjeratnya.
Ya, nama Ayin bagai ular kobra yang siap mematuk siapa saja. Untuk sementara ini yang sudah pasti menjadi korban Artalyta Suryani adalah jaksa Urip Tri Gunawan. Mengapa Urip sudah dapat dipastikan? Tidak lain karena Jaksa Agung Hendarman Supandji sudah meminta agar kasus suap seperti yang menimpa Jaksa Urip Tri Gunawan tidak terulang lagi. Itu berarti, sebelum perkaranya diputus pun jaksa Urip diyakini bersalah.
Yang menarik perhatian masyarakat (publik) adalah, siapa korban Artalyta selanjutnya? Hal ini menarik dengan terungkapnya rekaman pembicaraan Artalyta dengan sejumlah oknum Jaksa Agung Muda (JAM) dan melibatkan sejumlah nama pejabat di kejaksaan. Apalagi, Jaksa Agung Herdarman pun sudah menegaskan akan memeriksa ketiga JAM. Dan kemarin salah seorang di antaranya (Jamdatun) Untung Udji Santoso mulai diperiksa oleh tim pengawas Kejaksaan Agung (Kejakgung) terkait kasus rekaman pembicaraannya dengan Artalyta. Baca lebih lanjut

Dewapun Terangsang

Oleh : R Giryadi

Hanya pria tidak normal ketika melihat perempuan seksi tidak terangsang. Apalagi, kalau aksi dandanan perempuan itu cukup menantang. Belahan dada menyembul, pusarnya mengintip dari teng topnya, kemudian belahan pantatnya juga menyumbul karena celana yang dipakai sengaja diplorotkan (meski katanya lagi mode). Ck ck ck…
Atas nama mode, terkadang dandanan perempuan sangat berlebihan. Menantang, dan bikin hati pria dag dig dug ser. Jadi siapa salah, kalau sering terjadi pelecehan seksual? Ingatkah, kasus Dewi Persik yang digerayangi payudaranya? Siapa yang salah? Dandanan Dewi Persik yang memang seronok, atau tangan usil yang menggerayangi payudara Dewi Persik?
Apakah tangan usil itu, karena sering menggerayangi internet porno, atau tangan itu sudah bejat dari sononya? Atau jangan-jangan, istilah ada gula ada semut, ada ikan asin ada kucing, benar adanya? Tak ada akibat kalau tak ada sebab. Jadi siapa yang salah? Kok pertanyaan melulu!
Memang sulit. Masalah pornografi, tak bisa diselesaikan dengan hanya memblokir situs porno. Ingat, ketika seks dipingit secara naluriah, manusia akan mencari jalan lain. Nah, jalan lain inilah yang harus dipikirkan. Apakah jalan lain itu melalui kejahatan (pemerkosaan, pencabulan, atau yang lainnya) atau jalan yang lain, pemerintah atau siapapun tak bakal bisa memantau karena seksualitas adalah naluri manusia. Sewaktu waktu dan dimanapun bisa terjadi. Baca lebih lanjut

Ibu Kita Kartini

Oleh : R Giryadi

Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

(WR Soepratman)

Kartini lahir 21 April 1879 atau 28 Rabiulakhir 1808 di Desa Mayong, Jepara. Tak jelas siapa yang memberikan nama itu padanya. Tapi Pramoedya dalam Panggil Aku Kartini Saja lebih yakin, karena perempuan, ibunyalah yang memberikan nama.
Waktu itu ayah Kartini masih menjabat Asisten Wedana onderdistrik Mayong, Kabupaten Jepara, dan memiliki rumah yang luas. Tapi Kartini justru tidak lahir di rumah yang luas ini. Sebagai anak dari “selir”, Kartini lahir di rumah kecil, berada di bagian belakang rumah Asisten Wedana itu. Baca lebih lanjut

Salah Tangkap

Oleh : R Giryadi

Kepolisian Brasil tengah sewot atas beredarnya film The Elite Squad. Film ini merupakan film semi-rekaan yang bercerita tentang Bope — sebuah batalion khusus dari Polisi Militer Riode Janeiro. Film ini mengadaptasi ceritanya dari buku Elite da Tropa yang ditulis oleh sosiolog Luiz Eduardo Soares serta kisah langsung dari mantan kapten Bope, Andre Batista dan Rodrigo Pimentel.
Jose Padilha, sutradara The Elite Squad, menyatakan film ini dibuatnya sebagai sebuah bentuk perlawanannya atas aksi kekerasan dan peredaran obat-obatan terlarang dalam potret dari aparat kepolisian di Brasil.
Film ini sempat ditentang, karena mempermalukan citra polisi Brasil. Meski mendapat tentangan The Elite Squad, film yang mengangkat kisah korupsi, kekerasan, dan pembunuhan yang dilakukan aparat kepolisian Brasil, berhasil memboyong pulang trofi The Golden Bear sebagai simbol atas penghargaan film Terbaik di Festival Film Berlin (FFB) tahun 2008.
Padilha membuat film ini untuk memperlihatkan bagaimana negara ternyata telah membuat para petugas kepolisian terbagi ke dalam tiga sikap. Pertama, ada polisi yang korup, kedua, polisi yang diam saja, dan ketiga ada juga polisi yang bengis. Kontroversi atas hadirnya film drama ini ternyata tidak hanya muncul di festival film Berlin saja.
Gambaran dalam film itu hampir sama dengan apa yang terjadi di negeri ini. Kita ndak perlu menyajikan bukti. Sudah berentet bukti di depan mata, salah tangkap, salah hukum, bahkan salah tembak sering terjadi. Ini yang terkuak di media massa. Lalu berapa yang tidak terkuak?
Komite Anti-penyiksaan PBB dalam laporannya, 5-7 Mei 2008, menyatakan, praktik penyiksaan yang melanggar HAM di Indonesia cenderung meluas meski kita merupakan salah satu negara pihak yang telah meratifikasi konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia melalui UU No 5/1998.
Anda pasti ingat kisah Sengkon dan Karta. Tetapi tentu anda juga masih ingat dengan kasus salah tangkap pada Dwi Sumaji alias Iwik yang dituduh polisi telah membunuh Udin, wartawan Bernas itu? Tetapi sebagaimana kasus lainnya, polisipun bisa merekayasa BAP. Iwik dipaksa mengakui meskipun ia tidak melakukan yang dituduhkan Polisi. Beruntung sekali kejaksaan jeli, sehingga membebaskan Iwik. Baca lebih lanjut

Baju Koruptor

Oleh : R Giryadi

Koruptor akan dibuatkan baju seragam. Katanya biar nyahok! Biar urat malunya mencuat! Biar kapok alias jera! Pertimbangan lain, agar koruptor tidak seperti selebriti di persidangan. Biar sama dengan pesakitan yang lain, seperti pencuri ayam yang memang dari sononya sudah dekil. Pokoknya, mereka harus dibuatkan baju, biar tidak menyakiti hati rakyat yang uangnya dicuri.
Boleh juga ide itu. Kalau boleh usul, jika perlu dibuatkan upacara khusus untuk koruptor. Mereka yang pernah korupsi diwajibkan ikut upacara atau apel koruptor. Biar ingat terus, kalau korupsi itu merugikan negera. (Tetapi menyehatkan keluarga. Hemm).
Asyik, pasti. Mereka pakai baju seragam koruptor, setiap Senin, atau hari apa terserah, disuruh mengikuti apel. Buatkan juga mars koruptor. Slank, yang sudah tersohor itu mungkin bisa menjadikan lagu Gosip Jalanan, jadi lagu wajib saat apel. Sementara doanya, Doa Minta Kutukan dari Kyai Mbeling Emha Ainun Najib. Sementara rakyat disuruh menonton di atas podium, sambil mesem-mesem. Ini seperti drama jaman Yunani kuno. Baca lebih lanjut

Akal Abu Nawas

Oleh : R Giryadi

Pada suatu hari, kawan-kawannya Abu Nawas merencanakan akan mengadakan perjalanan wisata ke hutan. Tetapi tanpa keikutsertaan Abu Nawas perjalanan akan terasa memenatkan dan membosankan. Sehingga mereka beramai-ramai pergi ke rumah Abu Nawas untuk mengajaknya ikut serta. Namun saat akan masuk hutan, mereka dibingungkan jalan persimpangan.
Setahu mereka kedua jalan itu memang menuju ke hutan tetapi hutan yang mereka tuju adalah hutan wisata. Bukan hutan yang dihuni binatang-binatang buas yang justru akan membahayakan jiwa mereka.
Salah seorang menawarkan untuk bertanya pada sahabatnya yang tinggal tidak jauh dari tepi hutan itu. Mereka adalah saudara kembar. Tak ada seorang pun yang bisa membedakan keduanya karena rupa mereka begitu mirip. Yang membedakan mereka, yang satu selalu berkata jujur sedangkan yang lainnya selalu berkata bohong. Dan mereka adalah orang-orang aneh karena mereka hanya mau menjawab satu pertanyaan saja. Baca lebih lanjut

  • Kalender

    • September 2016
      S S R K J S M
      « Sep    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      2627282930  
  • Cari