Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Rakmat Giryadi, Wartawan Jatim Mandiri 

Pernahkah Anda membaca puisi Taufik Ismail yang dikarang tahun 1998 berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia? Kalau belum pernah, silahkan baca. Buku kumpulan puisinya ada di toko-toko buku. Para pejabat yang merasa tidak punya malu, silahkan baca. Kalau setelah membaca itu rasa malunya tidak tergelitik, maka buku itu boleh Anda lempar ke comberan, sembari mencibir : Emangnya gue pikirn!

Itu boleh-boleh saja, karena memang puisi salah satu sastrawan besar Taufik Ismail itu tentu bukan dimaksutkan untuk obat mujarab bagi mereka yang kebal terhadap rasa malu. Tentu tidak. Puisi itu hanya ‘sindiran’. Istilah orang Jawa, sebagai pasemon, atau bahasa kerennya sebagai refleksi jaman. Mungkin juga jaman yang tidak punya malu.

Jaman yang tidak punya malu? Emangnya jaman, punya malu? Jaman, punya malu. Karena jaman adalah kala atau waktu tertentu dimana manusia pada generasi tertentu tengah hidup, menjalin interaksi social, membuat kesepakatan, membentuk koluni-koluni, membentuk suku-suku, membentuk bangsa-bangsa.

Karena berinteraksi social inilah sebuah jaman punya karakter. Punya wajah. Karena punya wajah, sebuah jaman bisa dilihat ekspresinya. Ekspresi itu berjenis-jenis, ada pengecut, culas, penipu, pemalu, pemarah, pendiam, penangis, dan lain sebagainya. Pembawaan ekspresi inilah yang mempertegas, bagaimana sebuah jaman itu hidup meninggalkan peradabannya.

Maka kita bisa melihat, ekspresi bangsa Babilonia, Astex, Incha, Mesopotamia, Mesir, Yunani, Romawi, Eropa, Asia, Amerika. Ekspresi itu telah meninggalkan wajah, kebesaran peradaban mereka pada jamannya. Sebut saja peradaban Yunani yang telah meninggalkan ilmu filsafat manusia dan alam. Begitu juga peradaban Hindu, Budha, dan Islam yang masuk ke Indonesia juga telah memberikan pengaruh peradaban kita pada abad 9-15. pada abad itu kita masih punya kebanggaan sebagai bangsa yang beradab. Peradaban Budha yang mewariskan kebesaran arsitektur candi-candinya. Peradaban Hindu yang mewariskan kerajaan dan raja-raja besar yang berobsesi membangun nusantara. Begitu juga pada jaman itu lahir kitab-kitab besar tentang wulang reh, maupun tentang wulang kaprajan yang sangat termasyur. Maka pada jaman itu lahir para empu (guru, pemikir, filsuf) yang besar. Begitu peradaban Islam tak kalah pentingnya. Berasimilasi dengan masyarakat tradisi, Islam berhasil membangun peradaban baru, tanpa harus menghancurkan peradaban yang mengakar di tengah masyarakat.

Memasuki abad 15-17 ekspresi kebudayaan Barat dengan membawa semangat Gold Glory Gospel juga mendawa dampak ekspresi yang cukup jauh berbeda. Abad yang di Barat sering disebut abad pencerahan manusia itu, juga mempengaruhi ekspresi bangsa ini. Nusantara yang dicita-citakan oleh leluhur kita luluh lantak. Akibat perang dengan bangsa Barat. Begitu, memasuki abad 18-21 ini, seperti apakah ekspresi budaya bangsa kita?

Taufik Ismail menggambarkan demikian : …Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak  //Hukum tak tegak, doyong berderak-derak //Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,  //Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza //Berjalan aku di Dam, // Champs Élysées dan Mesopotamia  // Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata  // Dan kubenamkan topi baret di kepala // Malu aku jadi orang Indonesia. …

Sejak Orde Baru menggir dari kekuasaan, ibaratnya kita tengah menumpang perahu kertas. Sedikit basah, hancurlah negeri ini.  Memang, hal ini bukan karena kita lepas dari rezim Orde Baru, tetapi ini adalah tinggalan dari ‘peradaban’ Orde Baru, yang telah membangun negeri ini dengan tangan besi dan penuh KKN.

Pondasi bangsa yang dikatakan kokoh, ternyata keropos oleh mental pejabat dan aparat yang korup, rakyat yang pemalas, rakyat yang miskin dan dimiskinkan, pendidikan yang amburadul, banyak kekayaan alam yang dikeruk habis-habisan untuk kepentingan pribadi, dan lain sebagainya. KKN telah menjadi kiblat utama untuk memperkaya diri sendiri. Rakyat yang mempertanyakan dibungkam dengan sapatu lars kemudian dipenjarakan. Hukumpun memihak yang membayar.

Selayaknya puisi Taufik Ismail yang ditulis di tengah gejolak reformasi tahun 1998 ini bisa dijadikan cermin kita. Sebagai bangsa yang besar harus punya malu. Tetapi kalau tidak, kita akan hanya menjadi negara pengecut. Negara yang tidak pernah bercermin pada sejarah. Negara yang menatap masa depan bangsa hanya dari kantong pribadi, di balik kamar-kamar hotel, sembari mengumbar nafsu dengan artis-artis cekether. Sungguh tidak bermatabatkah kita?

Kalau memang kita ingin menjatuhkan martabat kita, maka renungkan petikan puisi Taufik Ismail berjudul, Ketika Burung Merpati Sore Melayang yang juga ditulis masa reformasi bergolak 1998 :
Langit akhlak telah roboh di atas negeri  // Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri  // Karena hukum tak tegak, semua jadi begini  // Negeriku sesak adegan tipu-menipu  // Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku  // Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku  // Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku  // Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku  // Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku 
// Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan // Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan  // Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan  // Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan  // Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan  ….
 Masihkah kita memilih bangsa kita luluh lantak. Sungguh, bangsa kita adalah bangsa yang terus merugi. Malu aku jadi orang Indonesia! n

2 Komentar

  1. Saya sudah pernah membca Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufik Ismail. Sungguh dahsyat sekali kumpulan puisi MAJOI membuat kita berenung,menepuk diri,dan merefleksi diri bahwa di dalamnya terdapat nilai-nilai sosial politik,pendidikan,dan moral yang menarik untuk dikaji. Mengingatkan akn pentingnya kemanusiaan,kekuasaan yang adil,pentingnya budaya baca, dan kelembutan budi pekerti.

  2. salam kenal aja


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s