Wayang Indonesia Rasa Baru (Irba)

 Dilarang Berangan-angan Tentang HAM 

“HAM itu makanan apa, Kang?” tanya Bagong kepada Petruk.

Petruk yang tidak pernah berpikir hal yang aneh-aneh itu keningnya mengkerut. Wajahnya berubah ekspresinya. Matanya yang biji kedelai itu berubah menjadi biji kedondong. Kalau kurangbesar diganti biji kelapa!

Hamberger, kali,” jawab Petruk sekenanya.

“HAM itu bukan makanan!” sahut Gareng, yang waktu itu sedang makan martabak.

“Kalau bukan makanan kok bisa keracunan. Dan membuat orang sampai tewas,” kata Bagong.

“Kamu itu ngomong apa. HAM itu bukan makanan, goblok!” tandas si mata juling itu.

“La ya kalau bukan makanan lalu apa?”

“Kamu dapat kata-kata itu dari mana?” tanya Petruk.

“Pertanyaan saya belum dijawab kok malah tanya,” kata Bagong.

“Ini untuk menjawab pertanyaanmu,” sahut Petruk.

“Dari orang-orang. Mereka banyak yang omong HAM, HAM, HAM, dan HAM.”

“Kalau begitu tanyakan ke orang-orang saja!”

“Itulah, saya tidak tahu orang-orang itu siapa?” kata Bagong.

“Lo, yang kamu tahu siapa lo?”

“Ngak ada.”

“Ya, sudah jangan dipikir,” tandas Petruk

“Ndak saya bingung, kok makakan itu mematikan sekali. Memang dia dibuat dari apa?”

“Makanan lagi. HAM itu bukan makanan! Tetapi sejenis…sejenis…apa…ya…”

“Kalau tidak tahu. Gak usah ngomong. Lebih baik kamu setuju dengan saya bahwa HAM itu makanan yang mematikan!” seru Bagong.

“Enak saja menyimpulkan. Saya tahu, tetapi saya tidak bisa menjabarkan apa itu, HAM,” kata Gareng.

“Itu sama dengan tidak tahu.”

“Tahu!”

“Sudah, sudah. Kok rebut sendiri. Lebih adil kita pergi ke romo  saja, siapa tahu dia tahu tentang HAM,” kata Petruk menengahi.

Akhirnya mereka bertiga pergi ke pesanggrahan ki Lurah Semar di Klampisireng. Waktu mereka datang, Semar sedang tidur pulas. Dengkurnya terdengar sampai di pelataran pesanggrahan. Mendengar dengkur Semar begitu keras, Bagong melemparkan kaleng susu bekas didekat dipan tempat tidur Semar sehingga menimbulkan bunyi: “Grooommmpppyyyyaaannngg!”

“Sundel bolong mrucut! Trembelane! Yang kurang ajar siapa! Ini melanggar HAM! Saya kan sedang tidur,” kata Semar.

“Nah, HAM itu tidur kali,” kata Bagong sekenanya.

“Goblok, HAM itu bikin marah orang lain itu, HAM!” sergah Petruk.

“Kamu juga goblok, HAM itu..anu..anu.. itu..lo…aduh sulit sekali sih mengartikannya,” kata Gareng tergagap-gagap.

“Ngomong sembarangan. HAM, HAM…apa itu HAM?” Sahut semar sembari menguap lebar-lebar.

“Romo tadi baru mengucapkan. Justru kami kesini mau tanya, apa itu HAM?”

“Apa sejenis makanan.”

“Atau sejenis kemarahan.”

“Atau lagi, sejenis…apa..apa ya..e…aduh sulit…apa itu HAM?” kata Gareng.

“Hus..! jangan ngomong lagi HAM kalau tidak ngerti artinya,” sahut Semar.

“kalau begitu kita tanya siapa?” seru mereka bertiga.

“Kita tanya aden Kresna saja. Dia kan orangnya pinter,” kata Semar. Kemudian mereka berempat datang ke Duwarawati menghadap Kresna.

“HAM….hh…hhh..hhh. Kamu kok tumben mikir HAM,” kata Kresna setiba empat punakawan itu mengutarakan maksudnya.

“HAM itu artinya kepanjangan dari Hak Asasi Manusia,” kata Kresna lagi.

“Wo….jadi HAM itu artinya kepanjangan,” sahut Bagong.

“Goblok! HAM itu Hak Asasi Manusia!” seru Gareng.

“Hak Asasi Manusia itu apa?” tanya Bagong lagi.

“ya, HAM itu tadi,” jawab Kresna.

“Kok dibolak balik?” tanya Bagong.

“Iya wong namanya kepanjangan. HAM itu ya Hak Asasi Manusia alias HAM itu,” kata Kresna.

“Kok bingung saya. Maksudnya Hak Asasi Manusia itu lo apa?”

Kresna juga mulai bingung. Dia tidak bisa menjabarkan apa arti Hak Asasi Manusia. Karena penasaran, mereka bertanya pada Betara Guru di Kayangan. Wes! Mereka sudah sampai di kerajaan para dewa, Kayangan. Mereka berharap para dewa itu bisa memberikan pengertian sejelas-jelasnya apa arti HAM.

“HAM itu Hak Asasi Manusia. Kalau HAD, Hak Asasi Dewa. Kalau HAH  itu Hak Asasi Hewan, kalau HAS, Hak Asasi Setan,” kata Betara Guru.

“Artinya ndoro. Bukan kepanjangannya?” sahut Bagong.

“Wah…kalau mengartikan itu bukan wewenang saya…..itu wewenangnya manusia untuk mengartikannya, wong yang bikin manusia sendiri bukan para dewa kok.,” kata Betara Guru.

“Wah..kalau begitu buntu!” kata Semar.

“Tidak semar. Kalau persoalan duniawai selesaikan dengan cara duniawi. Ini urusan manusia. Kalau urusan dewa, saya juga akan urus sendiri,” kata Betara Guru.

“Kan, dewa juga bisa membantu?”

“Nanti dikira intervensi?”

Kayaknya pembicaraan tentang HAM mentok. Dewapun tak bisa memutuskan bahkan tidak berani menjabarkan apa arti HAM. Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong tetap mencari apa arti dari HAM itu. Karena tidak ada yang bisa memberikan jawaban dengan pasti, merekapun akhirnya mereka-reka sendiri arti HAM.

“Kali artinya Hanya Angan-angan Manusia,” kata Bagong.

“Hus…! Kalau tidak tahu jangan bicara,” sahut Gareng.

“Berangan-anganpun tidak boleh?” tanya Bagong.

“Dilarang berangan-angan, tentang HAM!” sahut Semar. Dan Gareng, Petruk, Bagong tidak pernah tahu makanan apa HAM itu?. R Giryadi

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s