Bangsa Tempe

Rakhmat Giryadi, wartawan Jatim Mandiri 

Bung Karno pernah berkata, bangsa Indonesia jangan mau menjadi “bangsa tempe”. Bangsa yang plin-plan. Istilah jawanya esuk dele, sore tempe. (Pagi kedelai, sore menjadi tempe). Namun makna sebenarnya, bangsa Indonesia jangan mau lagi diinjak-injak oleh bangsa lain. Bangsa Indonesia jangan mau lagi dijajah oleh bangsa lain dengan menggunakan kebijakan-kebijakan ekonomi dan perjanjian-perjanjian. Bangsa Indonesia haruslah dapat menentukan nasibnya sendiri.

Dahulu bangsa Indonesia dikenal dengan “bangsa tempe”. Hal ini dikarenakan tempe merupakan sumber makanan utama protein. Bahkan dalam pelajaran SD dulu, kita selalu diajari tentang 4 sehat 5 sempurna, yang salah satu sumber makanan protein terpenting adalah tempe dan tahu.

Oleh karena itu, tempe menjadi sangat identik dengan status atau strata sosial masyarakat kelas bawah. Karena identik dengan masyarakat kelas bawah inilah, kemudian Bung Karno sempat mengingatkan kepada rakyat Indonesia agar jangan mau menjadi “bangsa tempe”, yang artinya jangan mau menjadi bangsa kelas dua yang selalu diinjak-injak oleh Negara lain.

Perkataan Bung Karno kini terbukti. Kita benar-benar menjadi bangsa tempe. Bangsa yang lemah, karena rela diinjak-injak negara lain. Jelas pemahaman ini tidak akan didapatkan di lembaga-lembaga pendidikan formal, karena sampai saat ini pun lembaga pendidikan di Indonesia telah dikooptasi oleh kepentingan modal.

Ketergantungan bangsa Indonesia terjadi di lima bahan komoditas pangan, seperti beras, jagung, kedelai, tebu dan daging sapi. Dalam hal ini tentunya sangat kontras kondisi bangsa Indonesia pada masa lalu dan sekarang. Indonesia pernah menjadi pengekspor penting gula di dunia, namun saat ini kita malah menjadi Negara pengimpor tebu, yang merupakan bahan baku gula.

Bahkan garam, yang seharusnya menjadi kekuatan bangsa Indonesia karena wilayah pantainya yang sangat panjang, saat ini bangsa Indonesia harus mengimpornya. Kita saat ini menjadi Negara yang kuat dalam mengkonsumsi, bukan Negara penanam bahan komoditas pangan. Lalu ada apakah di balik semua ini?

Krisis bahan pangan komiditas kali ini telah menyebabkan kepanikan banyak orang. Menguatnya indikasi gejala krisis pangan saat ini mulai dihadapi oleh Indonesia yang merupakan Negara agraris. Krisis berbagai komoditas pangan, mulai dari beras, kedelai, terigu, dan lain-lain, sebenarnya merupakan akumulasi dari ketidakseriusan pemerintah dalam membangun pertanian di Indonesia.

Namun selalu saja masalah ini ditimpakan pada lonjakan harga dunia terhadap komoditas pangan. Memang itu benar, karena terpuruknya komoditas pangan ini merupakan efek dari ketergantungan bangsa ini pada komoditas pangan impor.

Pertanyaannya, mengapa bangsa Indonesia harus mengimpor komoditas pangan dari negara lain? Bukankah kita selalu mengenal Indonesia sebagai negara agraris? Artinya dengan begitu, kalau saja harga komoditas pangan di dunia melonjak tinggi, seharusnya bangsa Indonesia diuntungkan dengan kondisi ini?

Hancurnya sektor pangan Indonesia disebabkan karena salah satunya adalah perjanjian bangsa Indonesia dengan International Moneter Fund (IMF) pada tahun 1998. Perjanjian pemberian bantuan pinjaman kepada bangsa Indonesia dilanjutkan dengan dihapuskannya tariff impor bahan pangan menjadi nol persen.

Kemudian monopoli impor yang selama ini dipegang sama Bulog juga dicabut, dan peranannya kemudian digunting. Lalu ada larangan pemberian kredit likuiditas bagi Bulog. Artinya proteksi terhadap bahan pangan yang selama ini dilakukan oleh Bulog, sedikit demi sedikit mulai dipreteli oleh perjanjian dengan IMF tersebut. Hasilnya adalah para investor asing maupun domestik dapat leluasa untuk mempermainkan harga dan pasokan. Kalau sudah demikian siapa yang disalahkan. Pantas kita disebut : Bangsa tempe!

1 Komentar

  1. Ayo Indonesia Bangkit! Salam Kenal


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s