Wayang Irba

Episode Memburu Celuring 

Oleh : Rakhmat Giryadi

Hilangnya para koruptor, telah dilupakan rakyat Klampis Ireng. Bahkan kini, para koruptor itu berhasil membangun kepercayaan, kepada rakyat Klampis Ireng. bahkan para koruptor kelas kakap itu kini balik menguasai dan menina bobokan, rakyat yang dulu menghukumnya.
“Kisah apalagi yang melanda negeri ini?” tanya Gareng.
“Apalagi Reng?” sahut Petruk yag sejakl tadi memperhatikan kegelisahan Gareng.
“Rakyat Klampis ireng, sudah pada lupa,” keluh Gareng.
“Lupa apa?”
“Bukankah para koruptor itu belum tertangkap?”
“Wah sudah lupakan. Mereka kan sudah pada insyaf dan mau memngembalikan uang hasil korupsinya,” kata Petruk.
“Kamu itu bagaimana, mereka itu kan jelas-jelas melakukan tindak korupsi kok,” sahut Gareng.
“Ya, tapi uangnya kan sudah dikembalikan! Apanya yang harus digugat?”
“Wo, jadi gitu, sekarang. Nih uang yang aku ambil kemarin dari kantongmu. Istriku pingin rujak, tetapi kemarin aku tidak punya uang. Sekarang tak kembalikan. Beres!” kata Gareng.
Petruk tercengang. Matanya melotot. Hidungnya yang panjang, bertambah panjang. “Jancuk, jadi yang ngambil uangku kemarin kamu. Kamu kok tidak tahu diri. Gara-gara uang kamu ambil, istriku tidak bisa arisan. Padahal kemarin seharusnya dia waktunya mutus arisan. Tetapi gara-gara uangmu kamu ambil, istriku tidak bisa mengambil uang arisan itu. Bahkan lebih menyedihkan istriku diclatu ibu-ibu RT. Tindakanmu itu sangat merugikan. Jangan diulang Kang!” kata Petruk panjang lebar.
Gareng hanya tersenyum. “Nah, kamu sekarang menemukan jawabanya, bukan?”
“Jawaban apa?”
“Tetang koruptor yang mengembalikan uangnya tadi. Enaknya dia mengembalikan uang, padahal, gara-gara dia banyak rakyat miskin yang terlunta-lunta. Pendidikan tidak berjalan baik gara-gara uang negara banyak yang dikorupsi, sehingga banyak rakyat yang hidup jauh tertinggal. Kemudaian sekarang setelah semua hancur, mereka dengan enaknya mengembalikan uang yang sudah dinikmati,” kata Gareng.
“Lo, ini berbeda dengan kasus yang saya hadapi,” sahut Petruk.
“Apa bedanya. Sama saja. Intinya saya dan koruptor itu menikmati uang, tanpa mempedulikan nasib sampeyan!”
“Jelas berbeda!”
“Beda apanya?”
“Kamu telah mencelakakan saya. Koruptor itu tidak mencelakakan saya!” seru Petruk.
“Ya ini saya kan sudah mengembalikan uangmu,” sahut Gareng pula.
“Ia tetapi istriku tetap tidak jadi narik arisan, goblok!”
“Sama kalau begitu. Anak-anak kita juga nggak sempat sekolah. Kita mlarat gara-gara koruptor. Sekarang dia enak, mengembalikan uang tanpa ada rasa tanggungjawab. Ini tanggungjawab moral yang tidak ada!”
“Kalau moral saja, kan tidak ada hukumnya!”
“Semestinya lebih berat. Karena kelakuan mereka, bangsa yang kita bangga-banggakan, membuat kita malu, mengakui sebagai warga bangsa ini. Ini yang tidak pernah dipertimbangkan,” kata Gareng.
“Nggendabrus!”
Mendengar ribut-ribut, Semar keluar dari kamar. Dia menghampiri, Petruk dan Gareng yang sedang bersitegang. “Ada persoalan apa?” tanya Semar.
“Gareng mencuri uang!”
“Tapi sudah saya kembalikan!”
“Tapi istriku tidak jadi narik arisan!”
“Koruptornya kembali, Koruptornya kembali!” tiba-tiba terdengar teriakan di luar padepokan Klampis Ireng, Semar, Gareng, Petruk keluar. Bagong kelihatan tertatih-tatih, sembari berteriak-teriak.
“Kamu itu ada apa kok histeris?” tanya Semar.
“Celuring. Dia sudah ditangkap!”
“Celuring?!” seru Semar, Gareng, dan Petruk.
Dengan tergopoh-gopoh, Semar, Gareng,Petruk, dan Bagong, menuju Alun-alun melihat, Celuring ditangkap. Melihat, Celuring yang tampak kuyu, lemah dan tanpa daya, Semar tidak bisa berkata-kata. Sementara orang-orang mulai menghadiai bogem mentah.
“Berhentiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!” seru Semar. Dan tiba-tiba orang-orang diam terpaku, seperti batang kayu. Semar mendekati Celuring. Orang-orang diam, menunggu apa yang terjadi kemudian.
“Kita tangguhkan penahannannya,” kata Semar.
Rakyatpun histeris!

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s