wayang irba

Pertolongan Pertama Tanpa Banyak Bicara

Gareng Sekarat! Orang-orang kalang kabut. Tak ada yang tahu, kenapa Gareng nekat melakukan hal yang tidak senonoh ini.

“Dibunuh barang kali!” kata Petruk.

“Jangan sembarang ngomong!” Sergah Semar. “Bantu buat pernapasan buatan!” tambah Semar.

“Nggak. Kebanyakan makan jengkol dia!”

“Huh, Gareng dah mau mati tu, Truk,” sahut Bagong, dengan nada tinggi.

“Kamu saja yang mulutnya lebar, kan masukan udaranya gede!”

“Cepat! Gareng selak mati, nanti!” bentak Semar, sampai Petruk dan Bagong terjengkang.

Gareng memang sekarat. Di mulutnya ada busa yang meleleh. Matanya sudah kelihatan putihnya. Napasnya Senin-Kemis. Tidak ada yang tahu, siapa yang berbuat ini. Istrinya juga geleng kepala. Tiba-tiba dia mengetahui Gareng sudah tergeletak di dipan rumah.

Bagong mencoba memberikan napas buatan.

“Pakai slang saja! Kamu yang megang Truk!” kata Bagong.

“Tidak Manusiawi!” seru Petruk sambil menjitak kepala Bagong.

“Ya, sudah kalau begitu. Biar mati saja!”

“Tega amat!”

“Cepat! Ambilkan kelapa hijau!” seru Semar. Petruk dan Bagong bergegas memanjat kelapa, mencari kelapa hijau, yang konon bisa untuk menyembuhkan orang keracunan.

“Ini, Mo,” kata Bagong sembari membetulkan celananya yang mlotrok.

“Ya, sudah sana minumkan!”

“Sebentar, Mo,” kata Bagong sembari nyruput air kelapa hijau. Itu. Thak! Tangan Petruk langsung menyampar kepala Bagong.

“Aduh!”

“Yang sakit, Gareng. Geblek!” seru Petruk.

“Iya, nih. Saya kan juga pingin,” elak Bagong.

“Ya, tapi dahulukan yang kena musibah!”

“Sabar, kenapa!”

“Cepat. Jangan banyak bacot!” seru Semar.

“Masya’allah, Rama. Kayak orang tidak sabaran.”

“Lo…lo…lo..ini darurat Le. Kalau terlambat Gareng bisa koit,” kata Semar lagi.

“Ia. Tapi dia kan hanya keracunan belaka,” sahut Bagong.

“Kalau tidak rela menolong kakang Gareng, tidak apa-apa kok, Dik. Biar saya tak nyusul kang Gareng aja. Mati bareng!” seru Markonah istri Gareng.

“Iya. Pak Lik ini kebanyakan pertingsing. Mau bantu aja, mbeda-mbedakan,” seru Srintil dan Girik, putra Gareng.

“Lo, siapa yang mendain. Tenanglah, ini sudah akan aku berikan. Gitu aja ribut,” tambah Bagong.

Bagong segera menuangkan air kelapa hijau. Setelah satu tegukan, mata Gareng, sedikit demi sedikit membuka. Mulutnya komat-kamit. Sang istri segera mengipasinya. Matanya yang sembab mulai memancarkan kegembiraan. Anak-anaknya juga, terlihat tersenyum. Sementara Semar, mencoba mendekat, melihat kondisi anaknya yang pertama.

“Coba berikan lagi,” kata Semar.

“Truk, gantian kamu yang memberikan,” kata Bagong. Semar, geleng-geleng kepala. Petruk memberikan air kelapa hijau. Mata Gareng, kelihatan membuka. Mulutnya komat-kamit. Ia mulai sadar.

“Kok, enak air degannya,” kata Gareng lirih.

“Huh…manja sekali,” gumam Bagong.

“Istirahat dulu. Entar minum lagi,” kata Semar, sembari membaringkan Gareng, yang terlihat lunglai. “Kenapa memang?” tanyanya kemudian. Gareng geleng-geleng kepala. Kepalanya masih pusing.

“Kalau ada masalah semestinya dibicarakan dengan keluarga. Jangan hanya dipendam sendiri,” kata Petruk. Gareng geleng-geleng kepala.

“Kalau begitu kenapa memang?”

Gareng menunjuk, apel yang ada di bawah ambin. Petruk segera memungutnya. Buah yang ranum itu, sudah separuh, termakan. Tetapi di dalamnya tidak tahunya, sebagian sudah membusuk dan banyak ulatnya. “Wo…ini yang membuat Gareng keracunan!” seru Petruk.

“Makanya makan jangan hanya melihat buahnya. Meski apel itu enak. Tetapi kan kalau sudah lama juga bisa busuk. Jangan melihat apelnya dong,” kata Bagong.

“Makanya jangan pelit-pelit sesama saudara. Masak apel saja, disimpan sampai busuk!” kata Petruk.

“Siapa yang pelit. Sejak lama, saya kan sudah minta pertolongan ke romo agar membantu memberikan beras. Tetapi sampai kami kehabisan beras. Bantuan itu tak kunjung tiba. Karena kelaparan, saya terpaksa makan apel busuk itu,” kata Gareng melas.

“Kita tidak menyalahkan terlambatnya bantuan. Tetapi, sesama keluarga. Kita tidak pernah saling menengok. Kita meski diwadahi dalam keluarga besar, Semar. Tetapi masalah begini saja, tak teratasi. Dan tidak ada yang tahu,” kata istri Gareng.

“Ya. Kita kan sibuk sendiri-sendiri,” elak Semar.

“Itulah yang menyebakan hubungan kita menjadi renggang. Coba, kalau saya tidak berteriak-teriak, mana ada yang mau datang menolong, Kang Gareng. Mau nolong, malah ribut pula,” tambah istri Gareng, dengan nada tinggi.”Apa karena kami keluarga yang miskin, terus semua membedakannya,” tambah Istri Gareng, yang kali ini dia mulai menangis.

“Sudah-sudah. Ini masalah sepele, kok jadi kepanjangan,” kata Semar, sareh.

“Maaf deh,” kata Petruk dan Bagong. “Kami kilaf.”

“Enak saja, kilaf. Kita sudah sekarat sekarang minta maaf!”

“Sudahlah. Yang penting bagaimana sekarang Gareng ini,” sahut Semar. “Nggak perlu dieksploitir. Ini kan bencana. Masak harus dieksploitir sampai kemana-mana. Kalau bisa diatasi sendiri kenapa harus ramai-ramai, dan mempersoalkan di luar bencana itu sendiri. Sekarang yang salah harus dibenahi, yang benar kita pertahankan,” kata Semar.

“Akur!” sahut Petruk dan Bagong.

“Minta air degannya lagi!” rengek Gareng.

Bagong dan Petruk segera berlari. Memanjat kelapa. Memberikan air kelapa muda secepat mungkin tanpa banyak bicara. Ini namanya pertolongan pertama tanpa banyak bicara. *

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s