Roro Mendut

Oleh Rakhmat Giryadi
Ada kisah yang lebih tragis daripada kisah Santa Valentinus dari bangsa Roma yang setiap 14 Februari selalu diperingati sebagai hari kasih sayang atau Valentine diseluruh penjuru dunia. Bahkan bangsa Indonesia yang punya latar belakang kisah yang sama pun ikut-ikut merayakan.
Seperti banyak diketahui, 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (dewa kesuburan) yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.Beberapa sumber menyebutkan bahwa jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan kedalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Churc di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836.
Sejak itu, banyak wisatawan yang berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Namun kisah itu tidak ada landasan yang kongkrit dan argumentatif untuk menyanggah kebenarannya. Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa.
Hubungan antara tiga martir ini terhadap perayaan hari kasih sayang tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan Paus Gelasius II pada tahun 496 M menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga martir ini.
Hal ini bisa dibuktikan dengan kisah lain mengenai Valentinus. Catatan lain menyebutkan pada abad ke-14 di Inggris dan Prancis, dimana diyakini bahwa 14 Februari merupakan hari ketika burung mencari pasangan hidupnya. Keyakinan ini ditulis dalam karya sastrawan Inggris abad ke-14 bernama Geoffery Chaucer. Dalam karya tersebut dia menuliskan: “…for this was sent on seynt valentyne’s day,…when every foul cometh ther to chosehis matc (inilah yang dikirim pada hari santo Valentinus,…saat semua burung datang kesana untuk memilih pasangannya)”.
Padahal kalau mau kita renungkan, Roro Mendut dan Pronocitro lebih memiliki arti kasih sayang yang dalam dan bahkan catatan sejarahnya cukup akurat. Roro Mendut dalam cerita rakyat Indonesia, adalah seorang perempuan cantik yang hidup di Pulau Jawa pada zaman Kesultanan Mataram abad ke-17.
Kecantikannya memukau semua orang, termasuk Wiroguno yang sangat berkuasa saat itu. Namun, Roro Mendut bukanlah wanita yang lemah. Dia berani menolak keinginan Wiroguno yang ingin memilikinya. Bahkan dia berani terang-terangan untuk menunjukkan kecintaannya kepada pemuda lain pilihannya, Pronocitro (Pranacitra, dalam bahasa Indonesia). Wiroguno yang murka mengharuskan Roro Mendut untuk membayar pajak kepada kerajaan.
Roro Mendut pun harus berpikir panjang untuk mendapatkan uang guna membayar pajak tersebut. Sadar akan kecantikannya dan keterpukauan semua orang terutama kaum lelaki kepadanya, akhirnya dia tiba pada suatu ide untuk menjual rokok yang sudah pernah dihisapnya dengan harga mahal kepada siapa saja yang mau membelinya.
Kisah ini peranah dinovelkan oleh almarhum Rama Mangunwijawa dengan judul Roro Mendut. Secara garis besar, novel karya Mangunwijaya tidak jauh berbeda dengan cerita rakyat yang beredar di masyarakat Jawa. Namun Mangunwijaya berhasil mengelaborasi prinsip perempuan sebagai pemegang nasib sendiri dengan kungkungan sejarah yang patriarki.
Demi mempertahankan cintanya pada Pronocitro, Roro Mendut dan kekasihnya, Pranacitro, rela mati bersama. Ketegaran Roro Mendut untuk mati demi cinta, kian menegaskan bahwa ia bereksistensi melalui pilihannya itu. Selain ia merasa bebas memilih, ia pun bebas menentukan apa yang harus ia lakukan tanpa pengaruh nilai-nilai yang mencibirnya.sebagai wanita Jawa yang “hanya” menjadi konco wingking, harus siap surga nunut, neraka katut terhadap laki-laki.
Namun Mendut tidak memilih keduanya, ia tidak sudi dijadikan istri pemenang perang sebagaimana layaknya tradisi wanita timur diperlakukan. Ia juga tidak mau menjalani hidupnya dengan mengekor kejayaan laki-laki. Ia menciptakan alternatif sendiri yang berada di luar nilai-nilai yang berlaku di masyarakat Jawa kala itu.
Begitu dasyatnya kisah ini, tetapi kita telah melupakannya. Meski telah banyak dikisahkan ke dalam berbagai versi, namun kisah Roro Mendut tak banyak dimengerti oleh banyak anak negeri ini. Kenapa? Penyakit latah dan tidak percaya diri terhadap bangsa sendiri telah menjadi penyakit kronis bangsa ini. Kita lebih bangga menggunakan budaya-budaya asing, istilah-istilah asing, dan apapun yang berbau asing. Meski yang berbau asing itu tidak jelas maknanya bagi budaya kita sendiri, kita tetap bangga menyematkan ‘budaya’ itu.
Penulis adalah wartawan Jatim Mandiri

1 Komentar

  1. Kok cerita Loro Mendut ada banyak dan berbeda semua sih?
    Jadi susah mencari tugas ..
    Haha


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s