Akal Manusia

Oleh : Rakhmat Giryadi

Coba ingat-ingat pengalaman paling menakutkan selama hidup Anda? Adakah yang lebih menakutkan dengan film-film horror yang sekarang banyak diputar di gedung-gedung bioskup dan sangat digandrungi anak-anak muda? Adakah yang lebih menakutkan dari semua cerita-cerita misteri yang Anda baca?

Tidak ada yang menakutkan dalam film-film. Karena semua itu hanya fiktif alias hasil rekayasa teknologi dan cerita yang dikarang-karang manusia. Dalam imajinasinya dalam fiksi film, novel, dan karya lainnya, kita belum pernah menemukan hal yang paling menakutkan.

Lihatlah, berapa puluh film horror yang sudah diputar di bioskup, tetapi terus kebanjiran penonton. Penonton tidak pernah merasa kapok dengan aksi ‘menakut-nakuti’ oleh para industrialis film itu. Bahkan mereka seperti keranjingan untuk terus hidup dalam ketakutan dan menakut-nakuti.

Tetapi tahukah Anda, yang paling menakutkan selama ini bukanlah film-film horor, atau peristiwa kriminal? Tetapi adalah pikiran manusia. Karena semua kejadian sehoror atau seindah apapun, ternyata semua berpangkal dari pikiran atau akal manusia.

Menurut Gibran akal yang tidak dimanfaatkan untuk belajar bagaikan tanah yang tidak diolah, tubuh manusia yang kurang gizi. Akal menjadi penting bagi manusia, karena melalui akal manusia tidak terjebak dalam kesalahan dan kehancuran, dan melalui akal pula manusia dapat menemukan di mana letak kesalahan dan di mana kebenaran itu berada.

Namun akal manusia bisa menjadi sebaliknya. Tidak hanya menjadi pelita di kegelapan tetapi ia bisa menjadi kegelapan itu sendiri. Dalam pandangan Gibran melalui akal manusia dapat mengetahui nilai diri yang sebenarnya. Tuhan telah memberikan pengetahuan kepada manusia, sehingga dengan cahayanya manusia tidak hanya bisa menyembah-Nya, tetapi juga mampu memahami kelemahan dan kekuatan diri manusia sendiri. Mampu melihat kesalahan-kesalahan dan juga memperbaikinya. Menggunakan akal dan pengetahuan secara baik dan benar mampu melahirkan sekaligus membentuk manusia yang bijaksana.

Tujuan pengetahuan manusia adalah meneliti berbagai unsur yang membentuk alam semesta, menganalisis susunannya, menentukan hubungan-hubungan yang terdapat di antaranya. Pengetahuan mengadakan penelitian-penelitian, penyelidikan ilmiah, observasi, pembuktian-pembuktian, dan penemuan-penemuan dalam bidang teknologi. Semuanya merupakan aktivitas akal dan pikiran manusia untuk membantu manusia dalam upaya menyingkapkan eksistensinya.

Bagi Gibran akal dan pengetahuan merupakan sebuah fase penting dalam tindakan manusia, untuk menyingkapi, menemukan dasar eksistensi kehidupan manusia dan alam semesta. Akal dan pengetahuan dengan demikian tidak bertentangan dengan iman, sejauh digunakan dengan bijaksana.

Namun sejauh ini apakah manusia bisa bijaksana? Lihatlah, akibat akal manusia yang tak terkendali, lambat laun manusia mengalami kesengsaraan. Akibat ulah manusia (Lapindo) ribuan rakyat Porong menderita lahir batin. Akibat persengkokolan akal-akalan anggota dewan, ribuan rakyat Porong didzalimi lahir batin. Akal manusia bisa menindas manusia lainnya. Manusia tidak berakal pasti akan lenyap dimuka bumi ini.

Itulah, jika akal dan pikiran manusia dimutlakkan mereka akan menjadi liar dan menghancurkan. Karena sampai sekarang akal dan pikiran dipergunakan tanpa kebijaksanaan dan sudah mengakibatkan banyak hasil negatip. Polusi udara, polusi air, destruksi alam semesta, jenis manusia pun terancam dihapuskan dari muka bumi jikalau manusia kurang hati-hati.

Akal dan pikiran bisa dikendalikan selama manusia maju secara spiritual dan moral, dan juga selama manusia memiliki pemahaman yang tepat mengenai kehidupan ini. Bagi Gibran jika manusia sampai kepada pemahaman ini sudah barang tentu mereka adalah orang yang bijaksana, karena telah menggunakan akal dan pikiran mereka dengan baik dan benar.

Sungguh bahwa akal dan pikiran adalah anugerah Tuhan yang mesti dimanfaatkan dengan baik dan demi kebaikan itu sendiri. Sayang kata orang : ‘manusia itu tempatnya lupa.’ Karena itu, akal malah digunakan untuk bertindak alpa. Akal hanya dimanipulasi untuk kepentingan nafsu berkuasa. Dan hal itu sekarang sedang terjadi di Porong Sidoarjo. Rakyat jadi permainan akal-akalan.

Penulis, adalah wartawan Jatim Mandiri

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s