Asal Usil

Festival (Tanpa) Seni Surabaya

Oleh : Rakhmat Giryadi

Kalau Anda menerima katalog Festival Seni Surabaya (FSS) 2007 yang telah berakhir 15 Juni lalu jeli, sebenarnya di cover katalog itu ada kekeliruan. Dalam cover itu tertulis besar Festival Seni Surabaya 2007 dengan tema Peradaban Baru. Namun sebenarnya kata ‘Seni’ yang tertera dalam akronim FSS itu tidak ada. Kalau ada, kata ‘Seni’ itu hanya tempelan saja. Apa artinya ini?

Secara berseloroh, ada yang mengatakan karena dalam festival itu hampir tidak ada penyaji dari Surabaya. Kalaupun ada prosentasenya tidak sebanding dengan penyaji di luar Surabaya (Jawa Timur). Tetapi hal itu tidaklah debadtable. Karena memang pada dasarnya FSS yang digelar sejak 1996 dan sempat vakum beberapa kali itu diformat untuk ajang seni yang bersekala nasional. Cak Kadaruslan sebagai Ketua Yayasan Seni Surabaya (Penyelenggara FSS, pen) selalu menegaskan, FSS diselenggara sebagai etalase seni yang modern, inovatif, kreatif, dan apresiatif. Meskipun dari Surabaya (Jawa Timur) kalau tidak bersetandar itu, tentu tidak dimasukan dalam agenda festival.

Namun tak pelak ‘kesalahan cetak’ itu tetap menjadikan tanda tanya. Bahkan selorohan kali ini tampak lebih esensial, bahwa jangan-jangan kesalahan cetak itu sanepan bahwa di Surabaya memang ‘tidak ada seni’. Dalam pengertian ini, seni yang dimaksud adalah seni yang sesuai dengan konsep festival (FSS).

Memang terlalu arogan kalau dikatakan Surabaya tidak ada seni yang berstandar festival. Namun marilah melihat realitasnya. Dalam seni teater misalnya, dalam lima tahun terakhir ini, memang boleh dikatakan, kelompok-kelompok amatir tidak menunjukan perkembangan yang signifikan terkait dengan isu-isu teater masa kini. Dalam lima tahun terakhir, kehadiran kelompok teater amatir di Surabaya hanya seputar itu-itu saja. Sementara mereka cenderung ‘tak menghiraukan’ keberadaan FSS.

Lebih tragis lagi seni tari. Cabang seni ini hampir tidak ada kelompok maupun individu yang bisa dikatakan ‘masuk’ dalam katagori festival. Kalaupun ada, hasilnya akan mengulang-ulang pada orang itu-itu juga. Sementara seni sastra  yang berkembang cukup pesat baik di Surabaya maupun di kantong-kantong lain seperti di Lamongan, dan Sumenep tak mendapat porsi yang cukup memadai, karena sastra harus berebut dengan sastrawan nasional yang jumlahnya ‘bertruk-truk’.

Seni rupa yang bisa dikatakan mampu bersaing dengan perkembangan seni rupa di kota-kota lain semacam Jakarta, Bandung, Yogjakarta, dan Bali, lebih mending mendapatkan tempat. Bahkan dalam satu kesempatan, FSS memunculkan generasi baru perupa Jawa Timur. Begitu pula dengan sastra.

Namun meski demikian, harapan bahwa setiap penyelenggaraan FSS, public –dan tentunya juga seniman- Jawa Timur, selalu berharap hadirnya generasi-generasi baru seniman seni pertunjukan mengemuka. Ini artinya public berharap, FSS tidak hanya dijadikan pesta ‘orang lain’ sementara kita –seniman Jawa Timur- dari tahun ke tahun hanya bisa jadi penonton.

Tentunya harapan itu tidak hanya dibatin atau wacana ‘dibalik punggung’ (baca : rasan-rasan) saja. Festival (tanpa) Seni Surabaya, harus dijawab dengan kerja keras. Tidak ada buruknya kita menantang, bahwa di Surabaya masih ada seni (man) yang bisa dihandalkan. Peluang itu masih ada senyampang public Surabaya mau merebutnya (ingat FSS juaga didanai oleh APBD Kota Surabaya). Kita harus membuktikan FSS bukan festival ‘orang lain’ (baca : tanggapan) tetapi benar-benar mampu menjadi pesta seni (man)-nya Surabaya. Semua itu hanya akan terwujud kalau seniman Surabaya mampu menelorkan karya yang berstandar festival, seberapapun standarnya. **

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s