Asal Usil

 Sang Idola

Oleh : Rakhmat Giryadi

Kalau Anda penyuka acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI), yang kemudian ditiru oleh stasiun TV lain dengan acara yang hampir sama, tentu teringat dengan Veri dari Medan yang mampu menumpahkan air mata pemujanya. Mereka adalah anak-anak baru gede (ABG) dan juga ibu-ibu. Tangis dan jerit mereka mengantarkan Veri dari Medan menjadi sang Idola di AFI I menyisihkan Mawar yang cantik dari Jakarta.

Dan air mata itu tak tumpah tak hanya untuk Veri, tetapi selama berlangsungnya AFI air mata selalu tumpah, ketika masing-masing peserta tereliminasi. Histeria massa dan hujan tangis itu bisa kita saksikan setiap Sabtu malam, yang ditayang secara live oleh Indosiar. Lihatlah, banyak ibu, remaja, juga anak-anak yang menangis histeris saat presenter Adi Nugroho membacakan nama akademia yang tereliminasi. Mereka menangis dengan tangan menjamah angin, seraya memanggil-manggil nama idolanya yang gugur itu.Tangisan tak hanya tertumpah di gedung tempat konser AFI berlangsung, tetapi merambah pula ke rumah-rumah penduduk di berbagai daerah di Indonesia. Seperti halnya di tempat konser, di kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, mereka yang menangis di rumah bukan hanya kalangan ibu-ibu dan remaja saja, tetapi juga anak-anak.Apa yang menyebabkan mereka histeris? Ada unsur proximity (kedekatan) antara masyarakat dan sang idola yang menyebabkan hysteria itu terjadi. Terutama kedekatan kepentingan, yaitu sama-sama berharap citra melalui kemenangan. Kehebatan AFI ini lebih disebabkan keandalan event organizer, dalam hal ini pihak Indosiar, dalam ”mengelola” psikomassa. Mengapa hysteria mereka terus terpicu. Pertama karena penyelenggara terus menggelontor berbagai acara yang bersangkut paut dengan idola pemirsa. Karena itu kedekatan mereka semakin dekat. Kedekatan itu dibangun dari hal yang remeh temeh dan disiarkan secara terus menerus. Hampir setiap hari, pemirsa tahu berita idola mereka. Dari sinilah, emosi kedekatan mereka terbangun.Tidak hanya AFI acara serupa juga menggunakan metode yang sama. Tidak hanya acara semacam ini, tetapi, sebuah grub musik juga menggunakan metode yang sama agar kedekatan mereka dengan penggemar terus terjaga. Karena itu, sebuah band, sebut saja Nidji, Ungu, Radja, Peterpan, Samsons berusaha secara terus menerus menggelontor informasi demi mencapai kedekatan emosi itu. Bila mereka berhasil, tentu nama mereka akan terus melambung. Sebut saja Samsons, Nidji, dan Ungu adalah band-band yang kini menduduki puncak popularitas. Mereka tidak hadir dalam kaset dan CD/VCD namun lewat berbagai paket promosi yang besar-besaran. Bahkan mereka mampu menelusup ruang-ruang privasi penggemar, lewat handphone, ipod, MP3, MP4. Bahkan kalau mau, seseorang penggemar bisa mengakses informasi sang artis lewat program khusus melalui handphone.Dari sinilah kedekatan emosi terbangun. Belum lagi gaya hidup sang idola, dengan sangat mudah ditiru oleh penggemar. Mulai dari mode, asesoris, bahkan juga tato, sering menjadi acuan para penggemar. Mereka sering merepresentasikan dirinya sebagai Pasha, Ian Kasela, Ariel, Bams, dan lain sebagainya. Histeria massa tidak hanya dalam bentuk kedekatan hati, tetapi hapir keseluruhannya milik sang idola diadopsi kedalam kehidupan sehari-hari oleh penggemar.Mengapa hal ini bisa terjadi? Dalam literatur klasik psikologi, emosi merupakan reaksi (kejiwaan) yang muncul lantaran adanya stimulant yang terus menerus. Misalnya, kesamaan nasib dan kepribadian, yang telah dikenalinya lewat Diari AFI. Sugesti adalah proses yang memengaruhi seseorang sehingga menerima pikiran dan keyakinan, tanpa bersikap kritis.  Sugesti itu sendiri bisa muncul dalam bentuk autosugesti apabila merasa dirinya punya banyak kesamaan dengan akademia tertentu. Tapi bisa juga dalam ujud heterosugesti, jika dia sangat mengagumi akademia tersebut.Histeria mulai diteliti sejak abad ke-19, terutama oleh Josef Breuer, JM Charcot, Janet, dan Sigmund Freud. Dalam perkembangannya, Freud yang lama berguru pada Charcot, meyakini gangguan histeria ini tak cuma disebabkan oleh kelainan organik, namun juga gangguan emosional yang dialaminya. Artinya, orang-orang yang secara kejiwaan sehat bisa saja mengalami histeris. Dalam kasus Ungu, atau kasus kerusuhan di band lain seperti Slank, Iwan Fals, Jamrud, Dewa 19, Radja, dan lain-lainnya, hysteria pada sang idola mampu berubah pada prilaku fisik, bisa hysteria itu tak terkontrol. Mereka tidak hanya menangis, menjerit, tetapi emosi tubuhnya juga tak terkontrol. Gejala ini biasa muncul pada penderita histeria. Dalam arti yang sebenarnya, dan biasa dipakai dalam ilmu kejiwaan (psikiatri), histeria adalah salah satu jenis gangguan jiwa neurotik akibat perselisihan psikologis yang sangat beremosi.Gangguan itu kemudian dimunculkan secara jasmaniah (fisiologis) tertentu. Maka, sebagian ahli kejiwaan menganggapnya sebagai neurosis konversi (conversion neurosis), karena adanya proses perubahan dari gejala psikologis menjadi manifestasi fisiologis.Secara umum masyarakat kita sedang mengalami hysteria semacam ini. Mereka yang merasa telah terbelenggu selama berpuluh-puluh tahun oleh rezim otoriter Orde Baru, kini sedang mengalami hysteria yang begitu akut. Mereka mudah, tersulut, terombang-ambing oleh ketidaktahuan mereka terhadap masa depannya. Karena itu, setiap kali muncul tokoh, harapan kepada tokoh itu cukup besar. Mereka menganggap tokoh itu mampu menunjukan jalan kebenaran. Masyarakat (kita) sedang mengalami disorientasi makna. Selama berpuluh-puluh tahun, mereka telah hidup dalam kualitas hidup yang penuh ‘kepalsuan.’ Kini masyarkat kita sedang mencari-cari sang idola, untuk dijadikan anutan, meskipun harus berkalang tanah. Masyarakat kita sangat butuh kepastian masa depannya. n

1 Komentar

  1. thanks, please visit our Medan site


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s