‘Jakarta Undercover ‘, Problim Filosofis di Tengah Perayaan Revolusi

Oleh : R Giryadi
Sepanjang sejarah, pemikiran tentang seks memang masih kurang mendapat perhatian. Baru pada pemikir Sigmund Freud, seksualitas dalam arti filosofi mendapat perhatian yang cukup serius. Claude Levi Strauss, Michel Foucault, mengungkapkan banyak tentang seks yang bisa menyingkap berbagai hal tentang eksistensi manusia.
Dan terbukti bahwa seks memang bisa mengungkap banyak hal tentang manusia, karena manusia seluruhnya adalah seksual. Seluruh tingkah lakunya selalu diresapi oleh identitas seksnya yaitu gradasi kelelakian atau keperempuan seseorang.
Karenanya mempelajari misteri seks berarti mempelajari keseluruhan proses pembentukan diri. Sebagai sebuah fenomena, lantas seks memiliki fonemena yang multidimensi. Fenomena itu menyangkut aspek biologis, psikologis, sosial, behavioral, klinis, maupun sosio-kultural. Aspek-aspek itu semuanya terintegrasi dalam prilaku seksual manusia.
Jakarta Undercover dan buku sejenisnya, telah mengungkap banyak gejala neoritis manusia modern, yang terungkap dalam aksi libidal yang tak terkendali, seperti nude party, Service-tripel Vip Sauna, Seks Bulan Madu Pajero Goyang, Truth & Game, Arabian Nite Bachelor Party, Chicken Nite Party, Ladies Escort No Hand Service, dan masih banyak lagi. Stidaknya ada duapuluh empat bab, yang menyajikan berbagai vareasi seks komersial.
Apa yang mesti dikatakan atas aksi seks gila-gilaan itu? Bagaimana aktivitas seks yang sangat provokatif itu bisa tumbuh dalam masyarakat yang masih menggenggam tabu? Apakah yang dilaporan Jakarta Undercover itu hanya sensasi masyarakat urban yang jemu dengan aktivitas sehari-hari? Atau apakah dalam masyarakat kita sedang terjadi sebuah pemberontakan libidal?
Memang Jakarta Undercover tidak memberikan jawaban filosofi atas aksi seks gila-gilaan. Jakarta Undercover hanya membongkar misteri malam di Jakarta yang tak pernah terjamah di mata orang awam.
Jakarta Undercover bukan sebuah kitab dan juga bukan ajaran. Jakarta Undercover lebih memaparkan, kegilaan akan lebiditas manusia modern (urban) yang cenderung mengarah pada sifat-sifat hewani. Ada entitas dari kehidupan manusia itu sendiri, untuk menghindari kejumutan hidup di tengah gencetan mesin industri, akibat dari kapitalisme yang masif.
Pelarian-pelarian semacam ini dalam masyarakat modern sudah menjadi jamak. Sehingga kalau kita menyimak investigasi Moammar Emka, bukan sesuatu yang baru. Karena toh kita semua sudah tahu, tempat-tempat seperti karaoke, nightclub, café, atau tempat-tempat hiburan malam lainnya selalu identik dengan seks.
Laporan Jakarta Undercover seakan memberi ketegasan bahwa persoalan seks di negeri ini masih sebatas persoalan identitas biologis, hubungan antara wanita dan pria. Lihatlah, betapa laporan itu –dengan detail- menggambarkan sebuah peristiwa komersialisasi seks bukan saja oleh kaum pinggiran tetapi oleh juga golongan menengah ke atas.
Berbagai aktivitas seks yang digambarkan Moammar Emka, merupakan gambaran berbagai vareasi seks yang aneh-aneh dan menyeleweng dari kebiasaan umum seperti mempertegas konsep Herbert Marcuse, bahwa kodrat seksualitas itu adalah, penyimpangan yang beraneka ragam (polymorphous perserse).
Sebagaimana diungkapkan dalam teori Herbert Marcuse, Jakarta Undercover seakan mengungkapkan sebuah revolusi libido secara besar-besaran seiring dengan perubahan revolosi sosial masyarakat yang masih memitoskan seks sebagai tabu.
Dilain pihak, praktek seks gila-gilaan sebagaimana dituturkan dalam Jakarta Undercover itu, menunjukan pada kita, diam-diam masyarakat kita sedang merayakan kebebasan yang dijanjikan oleh masyarakat industri lewat revolusi seksualnya. Maka praktek-praktek itu tidak hanya terselubung tetapi ada juga yang terang-terangan.
Perayaan kebebasan seksual itu, tidak saja terjadi dalam selubung malam, tetapi juga merambah pada berbagai bidang kehidupan sosial lainya. Lihatlah, betapa iklan produk kopi pun dengan sangat enteng mengkait-kaitkan produknya dengan identitas seks. Kasus-kasus incest di dalam hubungan kekerabatan, ayah perkosa anak kandung sampai hamil, anak perkosa ibu, adik cabuli kakak, dll sering kita baca di media-media massa. Dan peristiwa itu seperti peristiwa biasa lainnya, dengan tanpa alasan yang jelas.
Inilah yang disebut Foucault, sebagai manusia-manusia yang ‘sudah mati’. Manusia yang sudah kehilangan sama sekali sifat kemanusiaannya. Dan anehnya, manusia-manusia semacam ini tak pernah menyadari kebejatannya, sebagaimana diungkapkan Freud, manusia lebih banyak dikuasai ketidaksadarannya.
Perayaan seks di Jakarta, sebagaimana terungkap dalam Jakarta Undercover, adalah sebuah bentuk eksploitasi seks yang berlebihan. Gejala ini menunjukan, betapa pemahaman kebanyakan orang terhadap seksualitas baru pada tataran genitalitas dan organ seks sekunder lainnya. Seks dipahami pada dimensi biologis-fisiknya saja, sementara yang menyangkut behavioral, psiko-sosial, klinis, dan dimensi kulturalnya kurang terpahami.
Itulah sebabnya sampai sekarang mengapa seks tetap memiliki daya tarik sendiri di tengah berbagai persoalan masyarakat modern (perkotaan)? Heboh pornografi di tengah maraknya tabloid-taboid politik pasca Orde Baru adalah bukti nyata, betapa seksualitas tak lebih dan tak bukan hanya urusan bentuk payudara, bokong, paha, bibir, bahkan juga rambut. Maka jangan heran, bila akhirnya bokong-nya Inul Daratista menjadi icon pemberontakan itu.
Jakarta Undercover, dengan gamblang telah menguncang kesadaran kita, bahwa sampai detik ini kita masih mengamini yang fisik daripada yang filosofis. (*)

R. Giryadi
(cerpenis tinggal di Sidoarjo)

1 Komentar

  1. Mas R. Giryadi..
    saya suka banget tulisannya.
    Thanks ya udh ngupas buku saya.

    Salam,

    MK


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s