Asal usil

Indonesia Raya Asli

Menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus, ada ‘kado istimewa’ dari Roy Suryo, pakar telematika. Ia berserta tim ’Air Putih’ mengaku telah menemukan teks lagu kebangsaan Indonesia Raya versi lain. Tentu hal ini memancing polemik. Apalagi beberapa pelaku sejarah dan kolektor mengaku penemuan Roy Suryo ini bukanlah hal baru. Des Alwi mengklaim memiliki yang lebih asli dan otentik, karena dia sendiri yang telah memproduserinya.
Namun bagi Roy Suryo, bukan masalah penemuannya, tetapi sejarah merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya, karena itu penemuan itu perlu dipublikasikan ke publik, tidak disimpan bahkan menjadi milik pribadi. Karena pada dasarnya merekalah yang memiliki sejarah.
Namun bagi kita semua, bukan masalah keduanya, tetapi adalah seberapa jauh makna lagu kebangsaan itu telah meresap dalam sanubari setiap warga negara. Mengingat akhir-akhir ini berbagai krisis tidak mencerminkan makna dari lagu kebangsaan yang setiap upacara benderi, upacara hari nasional, atau dalam event-event tertentu sering dikumandangkan. Tetapi semua malah berlaku sebaliknya.
Lihatlah syair ini : Indonesia Tanah Airku//Tanah Tumpah Darahku secara makna berarti tempat kelahiran, tempat hidup, tanah kekuasaan, dan lain sebagainya. Tetapi realitanya, Indonesia memang telah menjadi tanah dan air lumpur yang membuncah merongrong ribuan nasib rakyatnya. Indonesia malah menjadi ajang pertumpahan darah anak-anak negeri hanya karena berpedaan-perbedaan.
Begitu juga syair ; Indonesia Kebangsaanku//Bangsa dan tanah airku//Marilah kita berseru//Indonesia bersatu…
Hemm..syairnya sangat heroik. Tetapi kenyataannya, kita terpecah belah. Mudah terpancing. Mudah saling tuding. Kalau sudah berkuasa tak mau dilengserkan. Hanya bersatu kalau korupsi. Kalau menutupi kejahatan. Kalau menutupi aib juga bersatu. Tetapi kalau masalah kelaparan, kemiskinan, bencana, jangan atanya. (Emangnya gue pikirin!)
Seperti kita tahu, lagu kebangsaan adalah lagu yang menjadi simbol suatu negara atau daerah. Biasanya lagu ini ditetapkan oleh hukum, tetapi seringkali tidak. Seperti lagu kebangsaan Britania Raya: God Save The Queen. Perbedaan lagu kebangsaan dengan lagu patriotik ialah bahwa lagu kebangsaan ditetapkan secara resmi menjadi simbol sebuah bangsa. Selain itu lagi kebangsaan biasanya juga satu-satunya lagu sebuah negara (atau daerah).
Marilah kita kembali kepada makna aslinya. Tidak perlu diributkan mana yang asli dan mana yang tidak asli. Yang lebih penting, lagu yang sudah kita kumandangkan sejak 1928 dan kemudian dimantapkan jelang kemerdekaan 1944 itu adalah meresapi dan memahami maknanya kemudian kita implementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Apakah pemerintah juga perlu mengeluarkan keputusan? Sejauh kepentingannya untuk penetapan dokumentasi yang otentik bukanlah suatu masalah yang besar. Toh, kalau kita membaca syair-syair yang ditemukan oleh Roy Suryo juga tidak berbeda jauh maknanya dengan yang selama ini kita kumandangkan.
Seyogyakan kalau dikeluarkan keputusan, lalu yang ditemukan Roy Suryo maupun yang disimpan Des Alwi hendaklah dijadikan kekayaan negara. Sementara lagu yang telah biasa dikumandangkan biarlah tetap berkumandang sebagai mana mestinya.
Terpenting dari peristiwa ini adalah, bukanlah asli atau tidak asli, yang penting sikap yang kita miliki dalam berbangsa dan bernegara benar-benar cerminan dari lagu itu. Kalau tidak, berarti kitalah yang palsu! @

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s