Yudhistira, Ajari Kami Tentang Kejujuran

Oleh : Rakhmat Giryadi 

Carikan satu saja, pemimpin yang jujur! Satu saja, tidak perlu 2, 3, atau lebih. Kalau ada, tolong sarankan dia tidak masuk dalam ranah kekuasaan. Tetapi tahukah Anda, betapa sulitnya mencari pemimpin yang jujur! Apalagi adil! Jangankan dua, satu saja kita sulit sekali mendapatkannya. Meski dapat, tak lama kemudian tiba-tiba ia terlibat atau dilibatkan skandal. Sepertinya memang susah sekali mencari pemimpin yang jujur dan adil. Bayangkan saja untuk mendapatkan pemimpin semacam itu, anggota dewan harus berkeringat dingin menguji para calon pemimpin. Tidak hanya satu atau dua hari, tapi bisa berhari-hari. Belum lagi kalau pemilihan itu masuk dalam ranah politik. Tambah ruwet.Lihatlah pemilihan calon gubernur bank Indonesia dan hamkin MK. Begitu sulitkah mencari pemimpin yang jujur dan adil? Atau jangan-jangan ini hanya masalah politik yang sudah menginjak-injak wibawa? Dalam politik tidak ada hitam atau putih. Semua serba abu-abu. Karena itu kalau ingin menjadi pemimpin jadilah ‘abu-abu.’ Tetapi bersiap-siaplah suatu saat Anda bisa jadi hitam total atau putih total. Soal kejujuran dan keadilan, memang susah sekali dibicarakan. Apalagi dalam suasana karut marut dunia social politik semacam ini. Keadilan dan kejujuran seperti harga minyak tanah, minyak goring, yang kini sangat langka dan mahal.Soal keadilan dan kejujuran, bercerminlah pada tokoh pewayangan Yudistira atawa biasa disebut Puntadewa itu. ia adalah saudara tertua dari lima bersaudara, Pendawa Lima. Sebelumnya ia menjadi raja di Indraprasta kemudian Hastinapura.Yudistira dianggap sebagai keturunan Dewa Keadilan, Batara Dharma oleh karena itu salah satu julukannya adalah Dharmasuta, Dharmaputra atau Dharmawangsa. Selain itu ia juga disebut Puntadewa atau Samiaji. Konon seumur hidup ia hanya berbohong sekali, yaitu terhadap Bagawan Drona mengenai kematian Aswatama.Yudistira adalah contoh pemimpin atau raja yang baik. Darah putih mengaliri nadinya. Tak pernah murka, tak pernah bertarung, tak pernah juga menolak permintaan siapa pun, betapapun rendahnya sang peminta. Waktunya dilewatkan untuk meditasi dan penghimpunan kebijakan. Tak seperti satria yang lain, yang pusaka saktinya berupa senjata, pusaka andalan Yudistira adalah Kalimasada yang misterius, naskah keramat yang memuat rahasia agama dan semesta. Dia, pada dasarnya, adalah cendekiawan tanpa pamrih, yang memerintah dengan keadilan sempurna dan kemurah hatinya yang luhur. Dengan kenampakan yang sama sekali tanpa perhiasan mencolok, dengan kepala merunduk yang mawas diri, dan raut muka Meski demikian sebagai manusia Yudistira juga punya kelemahan.Kita punya penyakit yang sudah bertahun-tahun mengidap dalam jiwa kita. Sebagai bangsa yang berfalsafah Pancasila, kita malah tidak mampu melaksanakan salah satu sila yaitu Keadilan Sosilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. ‘Yudistira, kalau engkau adalah tokoh nyata, maka pimpinlah kami! Bangunkan negeri ini dari keterpurukan. Jadilah kau tauladan bagi negeri kami!’ Ah, mimpi kali ye! @@@

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s