‘Fitna’ itu Fitnah

Oleh : Rakhmat Giryadi 

Fitnah itu bergunjing. Karena hanya hanya bergunjing, maka fitnah selalu tidak mempunyai bukti. Biasanya, alibinya katanya itu, katanya ini, katanya dia, katanya mereka. Fitnah sering tidak pakai logika, karena biasanya si pemfitnah lebih mengedepankan kedongkolan hatinya. Tidak hanya itu si pemfitnah biasanya orang yang tidak berdaya, tidak pede, dan orang yang picik.Memfitnah cenderung sembarangan. Logika tidak dipakai lagi. Apalagi hati nurani. Fitnah itu penyakit hati. Orang yang suka memfitnah dikatakan orang yang suka sakit hati.

Menanggapi fitnah sama dengan menanggapi orang yang tidak waras. Karena itu menanggapi fitnah kita malah ikutan tidak waras.Gunjingan film ‘Fitna’ buatan politikus Belanda, Geert Wilders, yang menuding Islam dan Al Quran dianggap sebagai biang keladi kekerasan di dunia ini, adalah fitnah. Karena itu tidak pantas film itu ditanggai berlebihan. Karena biasanya fitnah itu memang sengaja memancing ‘lawannya’ bereaksi. Kalau sudah bereaksi, bisanya sang lawan sangat mudah ditaklukan.Fitnah memang bisa memancing amarah.

Karena fitnah bisa saja membunuh karakter seseorang. ‘Fitna’ memang sengaja membunuh karakter. Bahkan dengan terang-terangan Wilders seolah menantang perang! Kalau kita tidak bisa meredam amarah, maka sebenarnya kita sudah mengiyakan tantangan Wilders. Kalau ini terjadi, perang dingin babak 2 akan berlangsung.Sebegitu besarkah efek dari ‘Fitna’? Ya, isyu SARA memang selalu mengundang kekerasan. Sejak jaman bahula, peperangan dipicu oleh sebab penaklukan keyakinan akan kebenaran (agama) dan motif lainnya adalah ekonomi.

Seperti kita tau sendiri, Eropa mengalami kebangkrutan yang parah setelah Byzantine jatuh ke tangan Ottoman, ditambah hegemoni Gereja dan epik perebutan kekuasaan antar kerajaan yang tiada akhir, membenamkan Eropa ke dalam salah satu jaman tergelap sepanjang sejarah manusia.Untuk bangkit dari kehancuran, kemiskinan dan tragedi, kerajaan-kerajaan Eropa dan Gereja, didorong oleh kemajuan ilmu astronomi, terutama penemuan kompas dan lain-lain, maka armada dari kerajaan Spanyol, Portugis, Inggris dll, berlomba-lomba mencari benua baru untuk kemakmuran bangsa Eropa.

Pada abad 16, Eropa telah mampu mengkolonisasi Afrika, terutama Afrika barat ( Afrika timur dan utara dikuasai muslim), bermaksud mengintensifkan kolonialisasi, terutama terhadap India, Malaka dan Cina sebagai pusat kemakmuran, maka dimulailah era eksplorasi dan kolonialisasi.Dan sisa cerita, sudah kita ketahui bersama, era kolonialisasi penuh horor, ratusan juta orang mati sia-sia, demi sekeranjang bumbu dapur dan rempah-rempah, untuk ditukar dengan emas dan kemakmuran.

‘Fitna’ dianggap bagian untuk memicu semangat ‘gold gospel glory’. Apakah kita akan menanggapinya? Kalau kita waras, seharusnya membiarkan tantangan itu. Toh, tantangan itu hanya diteriakan oleh politikus dari Negara kecil. Kecil sekali. Negara yang hanya berdiri di atas pendangkalan air laut. Karena itu negeri itu disebut Neiderland (tanah rendah).

Bangsa kita adalah bangsa yang besar. Tidak pantas menanggapi teriakan dari Negara kecil, meskipun kita pernah ditaklukan selama 3 abad. Toh, teriakan politikus yang hanya cari sensasi itu tidak mendapatkan dukungan dari dalam negeri. Bahkan Uni Eropa juga mengecamnya.

Ndak perlu kita membakar bendera, merusak kantor duta besar, memboikot produk Belanda. Mubadzir! Mari kita hayati fitnah sebagai, ujian dan cobaan. Kita yakin pada suatu saat kebenaran akan berpihak pada orang-orang yang bersabar. Bukankah Nabi Muhammad telah mengajari kita untuk terus tersenyum saat menghadapi gunjingan.

Ndak usah pasang badan segala. Bukankah Nabi Muhammad hanya tersenyum ketika dilempari batu oleh orang-orang kafir. Bukankah Nabi Muhammad malah mendoakan orang-orang yang telah mencederainya. Bukankah hanya dengan senyuman dan kesabaran Nabi Muhammad mampu menaklukan orang-orang kafir. @@

Wartawan Jatim Mandiri 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s