Fenomena ‘Hade’

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Pasangan Ahmad Heryawan (PKS) dan Dede Jusuf (PAN), Hade, memenangi pemilihan gubernur Jawa Barat. Kemenangan ini dianggap luar biasa, karena pasangan ini harus  melawan calon yang diusung oleh partai-partai besar, seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, PDIP, PKB, PPP, PBB, dan lain sebagainya. Namun kenyataannya, waktu telah membalik. Calon dari partai-partai bersar itu tumbang dengan perbedaan  yang cukup fantastis.

Kemenangan ini serta merta dikatakan sebagai kemenangan kaum muda, karena kedua calon itu representasi dari politikus muda. Ada juga yang menilai, banyak pemilih yang sudah bosan dengan figure-figur ‘Orde Baru’ alias politikus tua yang kolot dan tidak reformis. Sementara Hade dianggap mengusung semangat perubahan. Tidak hanya itu, kemenangan Hade dianggap refleksi peta kekuatan Pilpres 2009.

Sungguh, semua sah-sah saja memprediksi dan menilai kemenangan Hade. Memang, bisa jadi kemenangan Hade akan menjadi inspirasi dari Pilgub di daerah-daerah lain, bahwa figur-figur yang muda, smart, dan resistensi konfliknya rendah, sedang dicarai oleh konstituen. Bisa jadi pemilih (rakyat) sudah jenuh dengan pola pikir politikus-politikus tua, apalagi yang berbau Orba.

Namun semua itu memang masih sebatas, praduga. Karena politik tidak bisa digebyah uyah. Karena itu, pola kemanangan Hade belum tentu bisa diterapkan di Jawa Timur misalnya. Mengapa, karena secara budaya politik, Jawa Timur berbeda karakter dengan Jawa Barat.

Misalnya saja, kesadaran berpolitik masyarakat di Jawa Timur masih sangat dipengarui oleh struktur patron klien. Dalam budaya pesantren kiai-santri. Sementara separuh wilayah Jawa Timur, dipengaruhi oleh budaya pesantren tersebut. Hubungan patron klien ini menyebabkan hitungan politik tidak bisa dihitung jumlah santri atau calon pemilihnya, tetapi jumlah kiai berpengaruh. Karena itu tidak heran kalau calon lebih mengandalkan restu kiai dari pada membangun relasi politik dengan calon pemilih.

Kuatnya pengaruh kiai, bisa menyebabkan rendahnya partisipasi politik masyarakat. Hal ini tidak bisa dihindari karena secara cultural, kiai masih menjadi figure sentral masyarakat Jawa Timur. Kalau tidak percaya, silahkan lihat beberapa baliho, giant bener, dll dalam pilkada di wilayah pantura. Hampir semua balio, giant bener, spanduk, ada fotonya figure kiai yang memberi restu. Misalnya Gus Dur.

Restu kiai sudah dijadikan modal kemenangan. Karena itu tidak salah, para Cagub di Jawa Timur, juga banyak yang sowan kiai. Tujuannya satu, mendongkrak suara. Meski di balik itu selalu ditutup-tutupi dengan bahwa setiap santri bebas memilih pilihannya. Namun, bukankan itu hanya sekedar retorika? Padahal sebenarnya, dibalik itu semua ada kultur yang mengakar, paternalistik. Kalau kiai (sepuh) sudah memberi restu, siapa yang mau membantah? Gus Dur saja tidak berani, apalagi umat (santri).

Secara kultur, Jawa Timur tidak bisa disamakan dengan Jawa Barat. Apalagi, dalam tradisi kepemimpinan, di Jawa Timur masih sangat dipengaruhi oleh budaya patron-klien dalam struktur maupun fungsi itu tadi.

Munculnya tokoh-tokoh tua, tidak mengherankan. Secara herarki, para tokoh yang muncul adalah orang-orang yang duduk dalam struktur, baik birokrasi maupun ormas. Maka pola struktur ini akan mempengaruhi klien dalam menentukan pilihannya. Secara sederhana, para Cagub, menggunakan kiai untuk mewujudkan misinya.

Kemunculan tokoh-tokoh muda di Jawa Timur hanya bisa kalau ada political will dari organesasi massa yang selama ini sangat mempengaruhi sepak terjang cara berpolitik di Jawa Timur. Selain itu juga adanya kemuan masyarakat untuk merubah atau mampu memilah antara hubungannya dengan pemimpin pesantren (kiai) dan hubungannya dengan pemimpin pemerintahan (gubernur/walikota/bupati/camat/kepala desa).

Namun apakah semua itu bisa diwujudkan? Merubah tingkah laku, apalagi budaya, tidak semudah membalikan tangan. Masyarakat Jawa Timur sudah memiliki budaya berpolitik sendiri. Hanya mereka yang bisa memanfaatkan pola ini yang bakal memenangkan Pilgub mendatang. Sayang mereka yang bisa memanfaatkan, hanya tokoh-tokoh yang ‘sudah tua’ dalam berpolitik. Jadi jangan berharap ada perubahan besar di Jawa Timur lima tahun mendatang.@@@

 

Penulis Wartawan Jatim Mandiri

1 Komentar

  1. artikel anda :

    http://politik.infogue.com/
    http://politik.infogue.com/fenomena_hade

    promosikan artikel anda di http://www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s