Geng Nero

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Geng Nero, geng ABG di Pati tiba-tiba menggegerkan. Kebrutalannya, cukup mencengangkan. Bayangkan puluhan perempuan yang rata-rata masih duduk dibagku SMP, kebrutalannya layaknya geng preman. Betapa tidak, prilaku beringas mereka seperti mencuat dari dalam bumi. Mereka yang tinggal jauh dari kehidupan keras seperti di kota-kota besar, tiba-tiba muncul prilaku yang jauh dari bayangan kita.

Kita terlalu sering disentakkan oleh paparan temuan berita tentang fenomena bias pergaulan di kalangan remaja. Yang paling aktual adalah beredarnya rekaman video kekerasan oleh sekelompok pelajar putri di Juwana, Pati. Sejumlah pertanyaan bernuansa introspeksi pun lagi-lagi mengusik semua yang merasa sebagai orang tua.

Geng Nero, lalu geng Brenksek, atau bukan tidak mungkin geng-geng sejenis lainnya mengundang perhatian, kecaman, serta ungkapan keprihatinan sebagai ”kasus nasional”. Kita meyakini ekspresi pergaulan sebagian anak sekolah di Pati itu bukan satu-satunya, hanya kebetulan mencuat karena kecepatan mobilitas teknologi informasi. Model-model ekspresi yang lain diyakini ada sebagai fenomena gunung es.

Keyakinan kita pula, ungkapan jatidiri kelompok dalam model geng-geng semacam itu hanya salah satu pilihan cara bergaul. Pastilah ada model kenakalan lain, dengan modus aktualisasi kelompok yang berbeda-beda.

Prilaku kasar anak-ank geng Nero ini dinilai muncul sebagai perwujudan rasa frustasi anak dalam melihat berbagai situasi kekerasan yang terjadi di sekitar mereka. Disebut bentuk frustasi anak, karena para anggota geng tersebut ternyata masih termasuk usia sekolah alias masih duduk di bangku kelas satu SMA.

Kemungkinan, anak-anak ini melihat dan meniru aksi kekerasan yang selama ini memang terjadi di mana-mana dan dipertontonkan secara vulgar. Lingkungan sosial, sekolah, rumah, televisi, ataupun institusi, nyaris semuanya menyimpan unsur kekerasan, sehingga gadis-gadis muda tersebut pada akhirnya melihat kekerasan sebagai cara dan solusi yang wajar untuk menyelesaikan segala masalah. Bahkan sekolah pun menjadi ajang aksi bullying dan tawuran.

Lalu, bagaimanakah seharusnya meyakinkan diri bahwa pergaulan anak-anak kita telah berada di wilayah yang tepat? Bagaimana pula memberi ruang ekspresi untuk membangun kepribadian, dan pergaulan sosialnya, menuju sebesar-besarnya kemaslahatan bagi masa depan anak-anak itu?

Cukupkah hanya mengecam, atau mengungkapkan keprihatinan? Secara tidak sadar, kita seolah-olah memisahkan antara ”kenakalan orang tua” dengan ”kenakalan remaja”. Bentuk-bentuk penyimpangan sosial manusia sesungguhnya tidak membedakan strata pelaku. Yang berbeda hanya modus dan kualitasnya.

Kekerasan di dunia orang dewasa bisa mewujud dalam berbagai bentuk, dari fisik hingga psikologis. Dari penyimpangan penggunaan kekuasaan secara individual hingga yang masuk ke sistem secara struktural. Misalnya, mafia peradilan dan korupsi merupakan bagian dari jenis ”kekerasan” orang-orang dewasa.
Kita hidup di tengah pergaulan yang berbasis teknologi informasi global. ”Teman” keseharian kita dan anak-anak kita bukan hanya di ruang sosial, tetapi juga di atmosfer maya. Sepulang sekolah mereka lebih banyak terakses dengan internet, game, dan semacamnya. Terlepas dari manfaat intelektualnya yang tinggi karena juga merupakan tuntutan kompetisi global, anak-anak kita kehilangan banyak waktu untuk menghayati secara intens komunikasi sosial dengan lingkungannya.

Semua itu seperti menyentakkan kita untuk kembali menoleh ke bentuk-bentuk interaksi komunitas yang berbasis ”hati ke hati”. Dengan penuh kepercayaan, kita menyerahkan anak-anak itu untuk berkembang di kelompok sosial masing-masing. Padahal yang sesungguhnya terjadi kita merasa kehilangan waktu untuk bersama-sama mereka mengarungi pergaulan sosialnya.

Mungkin kita patut merenungkan kata-kata dari Kahlil Gibran :

…Kau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu. Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, pun tidak tenggelam di masa lampau. Kau busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian, Dia merentangmu dengan kekuasaanNya, hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap. ( Kahlil Gibran, Sang Nabi). @@@

 

1 Komentar

  1. genk nero tuh belagu banget sih……..
    kaya paling berkuasa ja di kalangan cwe2 mending positiv,eh malah negative !!!!
    GENK SARAP kali ye . . .


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s