Kebenaran

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Ada cerita pendek yang tak pernah saya lupakan. Bukan saja diskripsi karakter tokoh-tokohnya, seperti Ajo Sidi (Pembual) dan Haji Soleh (Penjaga Surau) yang kuat, tetapi ceritanya juga sangat menohok pikiran dan bahkan keyakinan. Betapa tidak, cerita pendek karangan A.A Navis, berjudul ‘Robohnya Surau Kami’ menyindir bahkan menuding, umat muslim yang hanya mengurusi akherat tetapi melupakan dunia. Ini soal kebenaran dan keyakinan.

Tidak tanggung-tanggung, A.A. Navis dalam ceritanya itu menggambarkan orang-orang yang taat beribadah malah masuk neraka. Katanya, Tuhan murka, karena orang yang kusuk beribadah melupakan kehidupan sosialnya, sehingga kehidupannya sendiri merana.

Padahal, Tuhan telah menciptakan bumi beserta isinya untuk kehidupan umatnya. Namun nyatanya banyak umat muslim yang melulu mengurusi akherat, daripada mengurusi keluarganya yang miskin.

Di dalam setiap cerpennya, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu – yang masih relevan di masa sekarang ini.

Cerpen ‘Robohnya Surau Kami’ bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil) di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia – si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek.

Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya,tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

Nah dari cerita ini kita menumukan bahwa kebenaran itu tidak mutlak. Kebenaran relative. Tetapi bagi Negara demokrasi, yang mutlak dan tidak mutlak harus bisa duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Artinya kebenaran suatu keyakinan tidak mutlak-mutlakan.  Namun bagi orang yang sudah yakin, bahwa kebenaran adalah mutlak.

Haji Soleh, boleh jadi contoh orang yang berpikiran seperti itu. Bahwa kebenaran itu adalah mutlak, tidak bisa ditawar-tawar, meski harus menyerahkan nyawanya sendiri.

Kekonyolan cara berpikir seperti ini, masih menjangkiti kita. Negeri ini menjadi karut marut karena cara berpikirnya masih mutlak-mutlakan. Bahwa kebenaran yang diyakini adalah kebenaran yang harus diyakini orang lain. Kalau tidak : Perang!

Sungguh, dalam cerita ‘Robohnya Surau Kami’ itu, A.A. Navis mengajak kita (umat muslim) untuk tidak hanya rebut soal akhidah. Soal Akherat. Soal-soal yang sebenarnya di dalam kitab sendiri sudah diatur oleh Allah. Dan kalau kita berpegang pada itu, sebenarnya beragama atau meyakini sebuah keyakinan adalah hak setiap manusia, tanpa melalui penindasan apalagi paksaan. (dah ndak jamanya cak).

Namun kita semua telah bermain api. Kebesaran Islam telah diselewengkan untuk masud-maksud lain. Islam yang artinya selamat, malah sering dibelok-belokan ke tepi jurang, sehingga kita sering merinding, takut, trauma, bahkan malah menjadi bertanya-tanya, benarkah kita berada di kendaraan yang aman sampai ke akherat.

Haji Soleh, telah menyajadi korban, pembengkokan oleh Ajo Sidi sipembual itu. Haji Soleh, trauma, takut, bahkan dalam pikirannya bertanya besar, jadi selama ini jalan yang dipilihnya salah? Sementara Ajo Sidi sendiri dengan santai melalui kehidupan berikutnya.

Saya juga takut, keyakinan saya juga dibelok-belokan sampai ke tepi jurang. Saya takut, jangan-jangan setelah ditepi jurang, tidak ada yang menolong seperti Haji Soleh yang akhirnya bunuh diri. Sementara pihak lain yang membelok-belokan keyakinan, puas sembari tepuk dada: Akulah yang paling benar. Kalian wajib diperangi!

Sungguh, saya takut. Kenapa keyakinan yang terpendam dalam hati bisa menjadi beringas seperti itu. Kenapa kitab-kitab yang berhasa sastra tinggi seperti itu justru tidak membuat  manusia berbudi pekerti halus?.

Kenapa keyakinan saya tiba-tiba digergaji oleh orang-orang yang merasa dirinya paling Islam. Paling benar. Siapa yang berhak diperangi dan memerangi! Semoga kita semua selamat. @@@

 

1 Komentar

  1. kenapa cuman sinopsisnya saja yang ditampilin kan banyak yang butuh cerita aslinya buat tugas sekolah!!!jadi saran aku tampilin dong cerita aslinya!!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s