Reformasi Media Massa

Oleh : Rakhmat Giryadi

 

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat telah mengingatkan tayangan-tayangan televisi swasta dan meminta masyarakat untuk mewaspadai 10 program acara yang  ditayangkan sembilan stasiun TV swasta nasional Indonesia.

Ke- 10 program acara TV tersebut yaitu: Cinta Bunga (SCTV), Dangdut Mania Dadakan 2 (TPI), Extravaganza (TransTV), Jelita (RCTI), Mask Rider Blade (ANTV), Mister Bego (ANTV), Namaku Mentari (RCTI), Rubiah (TPI), Si Entong (TPI), dan Super Seleb Show (Indosiar).

Program tayangan itu dinilai hanya sampah karena tidak mendidik. Penilaian itu diperoleh dari hasil pantauan KPI selama periode 1 – 13 April. Dan  ke-10 acara TV tersebut paling banyak melanggar Standar Program Siaran KPI, antara lain melanggar norma kesopanan dan kesusilaan dengan banyak menampilkan kekerasan, menampilkan kata-kata kasar, merendahkan, dan melecehkan orang lain.

Pemantauan dilakukan oleh 11 orang analis dari KPI dan ditetapkan berdasarkan evaluasi tim panelis indenpenden yang diketuai oleh Prof Dr Arief Rahman, Wakil Ketua Dedy Nur Hidayat, Seto Mulyadi, Nina Armando, Bobby Guntarto dan Razaini Taher. KPI menganalisis tiga jenis program tayangan TV dengan pertimbangan pengaduan masyarakat yang paling banyak yaitu sinetron, variety show, dan acara anak.

Kita cukup yakin dengan ketokohan tim panelis independen itu, namun tetap saja masih ada yang mengganjal pemirsa di rumah melihat tayangan berita liputan wartawan masing-masing televisi karena dinilai masih banyak yang tidak mengikuti kaidah reporting dan penaatan kode etik, misalnya memuat nama dan wajah tersangka meski belum tentu bersalah, penampakan saat penggerebekan, penembakan tersangka dll.

Kerja KPI patut kita renungkan. Karena bisa jadi, media massa sudah kebablasan dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Memang, kita harus mengakui salah satu yang patut dicatat dari reformasi adalah, mudahnya masyarakat mengases informasi. Bahkan sejak tumbangnya rezim diktator Soeharto Mei 1998 maka perkembangan media massa berkembang pesat baik media cetak seperti surat kabar, majalah, tabloid, maupun elektronik seperti radio, televisi, internet dll.

Tentu saja kita dan masyarakat menyambut gembira terjadinya ‘euforia media’ yang sebelumnya terbelenggu, tidak bebas, berubah menjadi bebas sehingga masyarakat menjadi punya banyak pilihan untuk membeli media massa cetak, menonton televisi, mengakses internet, mendengar radio dll.

Di media massa cetak, kini muncul dua kelompok  besar. Kelompok pertama yang benar-benar positif, dan kelompok kedua yang benar-benar negatif. Kelompok pertama menguntungkan masyarakat (publik) karena isinya positif sesuai dengan UU Pers dan kode etik jurnalistik serta menjalankan fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, sosial kontrol, memajukan perekonomian dll. Bahkan, mereka bisa menjual murah produknya.

Pada kelompok kedua terjadi sebaliknya, negaitif karena hanya mengejar keuntungan sementara karena isinya melanggar UU Pers dan  kode etik serta  jauh dari ketentuan hukum dan norma-norma yang berlaku. Media yang tergabung dalam kelompok ini selalu menampilkan tulisan/berita sejenis propaganda, fitnah, kekerasan, dan pornografi.

Persaingan begitu ketat. Bahkan cenderung pelaku bisnis media massa melakukan segala cara demi menaguk untung. Semuanya ingin berkembang, ingin meraih keuntungan besar sehingga segala macam cara dilakukan untuk bisa unggul mendapatkan pelanggan, pemirsa maupun pendengar.

Hal itulah yang membuat masing-masing pemilik surat kabar, majalah, televisi, radio, web-site/internet berusaha menampilkan hal-hal yang baru agar bisa unggul dari saingannya. Bahkan, tidak peduli dengan segala etika ketimuran. Semua bisa saja terjadi, atas nama demokrasi memperoleh informasi.

Inilah yang akhirnya membuat, segala aturan diterabas. Sementara masyarakat sendiri seperti orang yang sangat haus segala bentuk informasi. Kondisi ini perlu dimaklumi, karena selama 32 tahun, keinginan mereka dipasung oleh rezim Orde Baru. Namun demikian, kita harus melawan media yang hanya menyebarkan sensasional dengan tidak membelinya.

Ke depan kita harapkan seluruh media massa baik cetak, elektronik lebih berkualitas dengan adanya pengawalan dari pihak terkait, terutama publik. Sehingga isi pemberitaan dan tayangan sampahnya dapat diminimalisir dan akhirnya  hilang sama sekali. Bersainglah secara sehat untuk kepentingan masyarakat dan bangsa. @@@

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s