63 Tahun Merdeka (1) ‘Mutilasisme’

 Oleh : R Giryadi

Mutilasi menjadi teror. Mutilasi dalam bentuk nyatanya membunuh dengan cara ‘memretheli’ tubuh kurban. Kejahatan semacam ini bisa jadi hanya dilakukan oleh satu atau dua orang. Tidak bergerombol. Tapi ada mutilasi yang dilakukan secara bergerombol, terorganisir, dan massif. Penegak hukumpun kuwalahan menangani mutilasi yang satu ini. Apa itu?

Memutilasi uang rakyat, alias korupsi. Sekarang korupsi tidak sembunyi-sembunyi. Kisah curi uang rakyat dari balik meja, sudah tidak bonafide. Mutilasi yang paling keren di jaman modern ini dilakukan terang-terangan, bahkan dilakukan secara berjamaah. Tragisnya lagi, cara memutilasi uang rakyat diperagakan di depan penegak hukum.

Ini mutilasi paling keji yang ada di Indonesia. Uang rakyat dijadikan mainan oleh sebagian elit politik di dewan dan di lembaga penegak hukum. Di lembaga pemerintahan tidak kalah parahnya. Ini juga bisa disebut sebagai pembunuhan  berencana dan terorganisir. Bukankah akibat korupsi, banyak rakyat sengsara, miskin. Akibat kemiskinan, mutilasi dalam arti sebenarnya terjadi. Ingat, Ryan membunuh korban-korbannya karena factor ekonomi. Bukan asmara, atau penyakit lainnya.

Akibat mutilasi uang negara trilyunan rupiah hilang. Rakyat miskin hanya kebagian recehan yang dilempar dari balik mobil mewah, sembari sang empunya memohon doa agar terbebas dari jerat hukum dan banyak rejeki.

Maka, berbondong-bondonglah para duafa itu ke kota. Mereka menengadahkan tangan, seolah-olah rejeki jatuh dari mobil-mobil mewah. Sementara para politisi di Senayan ribut soal undang-undang untuk menyelamatkan muka mereka yang sudah terkadung coreng-moreng oleh ketamakan.

Partai-partai didirikan. Bendera-bendera dipasang. Bukan untuk rakyat, tetapi alat untuk berkuasa. Setekah berkuasa, ganti menjajah rakyat. Ganti yang korup. Ganti yang memutilasi. Rakyat hanya boleh bersuara saat pemilu. Tidak bersuara, dianggap subversip! Mereka hanya diiming-iming Rp 5 ribu dan kaos. Itulah pendapatan mereka setiap lima tahun sekali. Setelah itu mereka tidak tahu, kemana perginya uang negara?

Rakyat bahkan sudah dimutilasi hak-haknya. Partai-partai hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Omong kosong kalau berjuang demi rakyat. Kalaupun ada, itu partai yang keblinger. Partai yang tidak mungkin ada di negeri ini.

Kata Pujangga Ronggowarsito, ‘anemahi jaman edan, yen orang edan ora keduman.’ Tetapi ingat, ‘Sak bejo-bejaning wong edan, isih bejo wing eling lan waspada.’ Artinya dijaman edan seperti ini tidak akan mendapatkan apa-apa kalau tidak ikut edan. Tetapi, meski mendapatkan keuntungan dari mengikuti jaman, masih untung orang yang tetap ‘ingat (berdoa) dan ‘waspada’ (jujur).’

Ryan, dan para koruptor yang terjerat masalah hukum orang yang tidak tahan godaan di jaman edan ini. Mereka orang-orang yang dengan sadis memanfaatkan jaman gila ini. Bayangkan untuk bebas dari jerat hukum saja, Ayin harus menyogok jaksa Rp 6 milyar. Demi mendapat keuntungan pribadi, DPR mau saja disogok oleh pejabat daerah.

Tidak saja uang, tetapi disogok perempuan. Hemmmm, sungguh pelecehan yang luar bisa terhadap suara rakyat yang telah dibebankan pada pundaknya. Ini mutilasi suara yang lebih keji dari pada yang di lakukan Ryan. Hukumnya jelas, mati. Tetapi siapa yang bisa menjerat anggota dewan, kalau kejaksaan agung saja sarangnya korupsi? Siapa yang percaya lagi dengan penegakan hukum di negeri ini?

Pasti hanya orang tua kurban Ryan. Ryan pasti dihukum maksimal, karena pasti tidak akan mampu menyogok polisi, ataupun jaksa. Ryan pasti akan dijerat hukum maksimal. Ini prestasi besar!

Sungguh sangat nyata. Kita sudah terjangkit faham mutilasi (‘mutilasisme’). Mutilasi telah menjadi teror diberbgai sisi kehidupan kita. Tak tanggung-tanggung, pembunuhan secara pelan-pelan memreteli satu demi satu hak-hak warga negara sedang berlangsung. Negeri ini sudah menjadi negera terkorup  ke 3 di dunia. (kalau diikutkan Olimpiade mendapat medali perak).

200 juta jiwa siap kelaparan. Sementara politisi muda dan tua sedang saling berebut meraih simpati rakyat yang sedang sekarat untuk pemilu 2009. Tetapi berani sumpah, mereka hanya baik di awalnya. Tetapi dikemudian hari? (bersambung)

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s