Akal Abu Nawas

Oleh : R Giryadi

Pada suatu hari, kawan-kawannya Abu Nawas merencanakan akan mengadakan perjalanan wisata ke hutan. Tetapi tanpa keikutsertaan Abu Nawas perjalanan akan terasa memenatkan dan membosankan. Sehingga mereka beramai-ramai pergi ke rumah Abu Nawas untuk mengajaknya ikut serta. Namun saat akan masuk hutan, mereka dibingungkan jalan persimpangan.
Setahu mereka kedua jalan itu memang menuju ke hutan tetapi hutan yang mereka tuju adalah hutan wisata. Bukan hutan yang dihuni binatang-binatang buas yang justru akan membahayakan jiwa mereka.
Salah seorang menawarkan untuk bertanya pada sahabatnya yang tinggal tidak jauh dari tepi hutan itu. Mereka adalah saudara kembar. Tak ada seorang pun yang bisa membedakan keduanya karena rupa mereka begitu mirip. Yang membedakan mereka, yang satu selalu berkata jujur sedangkan yang lainnya selalu berkata bohong. Dan mereka adalah orang-orang aneh karena mereka hanya mau menjawab satu pertanyaan saja.
Abu Nawas menyetujui. Mereka menghadap dua saudara kembar itu. Dan benar pula, salah satu pemuda kembar itu hanya mau menjawab satu pertanyaan.
Kemudian Abu Nawas menghampiri pemuda itu dan berbisik. Orang itu pun juga menjawab dengan cara berbisik pula kepada Abu Nawas. Abu Nawas mengucapkan terima kasih dan segera mohon diri.
Sesampai di persimpangan hutan tadi Abu Nawas memilih jalan di sebelah kanan. “Hutan yang kita tuju melewati jalan sebelah kanan.” kata Abu Nawas mantap kepada kawankawannya.
“Bagaimana kau bisa memutuskan harus menempuh jalan sebelah kanan? Sedangkan kita tidak tahu apakah orang yang kita tanya itu orang yang selalu berkata benar atau yang selalu berkata bohong?” tanya salah seorang dari mereka.
“Karena orang yang kutanya menunjukkan jalan yang sebelah kiri,” kata Abu Nawas. Karena masih belum mengerti juga, maka Abu Nawas menjelaskan.
“Tadi aku bertanya: Apa yang akan dikatakan saudaramu bila aku bertanya jalan yang mana yang menuju hutan yang indah?”
Bila jalan yang benar itu sebelah kanan dan bila orang itu kebetulan yang selalu berkata benar maka ia akan menjawab: Jalan sebelah kiri, karena ia tahu saudara Kembarnya akan mengatakan jalan sebelah kiri sebab saudara kembarnya selalu berbohong. Bila orang itu kebetulan yang selalu berkata bohong, maka ia akan menjawab: jalan sebelah kiri, karena Ia tahu saudara kembarnya akan mengatakan jalan sebelah kanan sebab saudara kembarnya selalu berkata benar.
***
Kasus jalan persimpangan itu seperti kasusnya Asrori yang menghebohkan itu. Kasus Asrori, seperti menemui jalan persimpangan. Siapa yang benar dan siapa yang berbohong, memang harus segera dibuktikan. Yang menjadi sulit itu, semua mengaku benar. Kejaksaan agung mengaku tidak merasa salah memutuskan hukuman. Sementara para pembunuh Asrori versi kebun tebu, mengaku tidak tahu menahu pembunuhan itu. Mereka terpaksa mengakui pembunuhan itu karena tidak tahan siksaan polisi.
Sementara dipihak lain, Ryan mengaku dirinyalah yang membunuh Asrori. Tetapi pihak keluarga Asrori tidak mau mengakui kalau Asrori kurban Ryan. Keluarga Asrori tetap percaya dengan mayat Asrori yang di temukan di kebun tebu, meski tes DNA mayat Asrori di belakang rumah rian, memiliki kemiripan dengan DNA keluarga Asrori. Bingung bukan?
***
Biar tidak tambah bingung, Abu Nawas punya cara lain untuk menangkap ‘pembunuh’. Ceritanya, pada suatu hari, seorang kehilangan anak. Ternyata anak itu tewas terbunuh. Tetapi tidak tahu siapa yang membunuh. Misteri pembunuhan itu juga membingungkan polisi.
Abu Nawas ternyata punya cara sendiri menangkap sang pembunuh. Orang-orang yang dicurigai membunuh dan tidak mengakui perbuatannya, oleh Abu Nawas diberi tongkat sepanjang 50 cm. Kemudaia ia berpesan, agar tongkat itu disimpan dan esok harinya tongkat itu dikembalikan padanya. “Bagi yang membunuh, tongkat itu dalam satu hari akan memanjang 10 Cm, karena sudah saya rasuki mantra,” pesan Abu Nawas.
Mereka yang tidak membunuh, tidak takut. Tetapi yang membunuh dengan akal bulusnya segera memotong tongkat Abu Nawas itu 10 cm, agar esok harinya tetap berukuran 50 cm.
Ketika esok harinya saat mengumpulkan tongkat, pembunuh itu dicokok, karena terbukti membunuh. Buktinya, tongkatnya yang disimpanya malah lebih pendek 10 cm. Sayang Polisi kita bukan Abu Nawas. Kita tunggu saja!

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s