Artalyta

Oleh : R Giryadi
Hari-hari ini nama Artalyta Suryani alias Ayin, begitu popular. Palingtidak dikalangan telinga penegak hukum nama itu sudah cukup akrab. Namun jangan sok akrab dengan nama ini, karena bisa-bisa anda terseret dalam kasus yang menjeratnya.
Ya, nama Ayin bagai ular kobra yang siap mematuk siapa saja. Untuk sementara ini yang sudah pasti menjadi korban Artalyta Suryani adalah jaksa Urip Tri Gunawan. Mengapa Urip sudah dapat dipastikan? Tidak lain karena Jaksa Agung Hendarman Supandji sudah meminta agar kasus suap seperti yang menimpa Jaksa Urip Tri Gunawan tidak terulang lagi. Itu berarti, sebelum perkaranya diputus pun jaksa Urip diyakini bersalah.
Yang menarik perhatian masyarakat (publik) adalah, siapa korban Artalyta selanjutnya? Hal ini menarik dengan terungkapnya rekaman pembicaraan Artalyta dengan sejumlah oknum Jaksa Agung Muda (JAM) dan melibatkan sejumlah nama pejabat di kejaksaan. Apalagi, Jaksa Agung Herdarman pun sudah menegaskan akan memeriksa ketiga JAM. Dan kemarin salah seorang di antaranya (Jamdatun) Untung Udji Santoso mulai diperiksa oleh tim pengawas Kejaksaan Agung (Kejakgung) terkait kasus rekaman pembicaraannya dengan Artalyta.
Memang, tidak mudah memperoleh bukti suap dan konspirasi para pejabat di Kejakgung. Sebab, mereka ahlinya hukum yang biasanya mampu membuktikan kesalahan para pejabat. Sangat bodohlah kalau pejabat setingkat JAM masih mau menerima uang dengan tanda terima atau bukti-bukti yang dapat dihadirkan dalam persidangan.
Oleh karena itu, percuma saja menyidangkan Jamdatun oleh tim pengawas Kejakgung kalau tujuannya ingin menarik keterangan yang sifatnya negatif dari pelakunya. Pastilah tidak akan ada pencuri yang mengaku.
Justru itu, pemeriksaan ketiga JAM diharapkan tidak sekadar untuk membersihkan citra dan nama Kejakgung yang rusak akibat tertangkapnya jaksa Urip dan dipublikasikannya rekaman pembicaraan para JAM di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Tetapi, karena mereka merupakan pejabat dengan posisi strategis di Kejakgung maka Jaksa Agung harus tanggap untuk tidak segan-segan mencopot siapa pun yang terlibat dalam kasus mafia peradilan atau “jual beli perkara” di jajarannya.
Kasus suap jaksa Urip yang terkait perkara BLBI dengan obligor Sjamsul Nursalim kini semakin meluas sehingga menimbulkan keprihatinan masyarakat terhadap rusaknya lembaga peradilan. Kalau pihak-pihak yang berperkara bisa berakrab ria dengan aparat kejaksaan maka besar kemungkinan putusan yang diambil pihak Kejakgung menjadi bias. Yang bersalah menjadi tidak bersalah, atau setidaknya diringankan tuntutan hukumnya.
Wajar kalau publik mengharapkan Jaksa Agung bertindak tegas terhadap anak buahnya. Jangan menunggu terkumpul bukti-bukti yang lengkap. Secara moral saja para JAM yang berhubungan dengan Artalyta harusnya cepat ditindak karena melanggar kepatutan. Kalau mereka terbukti menerima suap hukumannya tidak sekadar dicopot dari jabatan tetapi juga diberhentikan dengan tidak hormat, kemudian kasusnya dilimpahkan ke pengadilan untuik dihukum dua kali lipat.
Sebab, mereka merupakan aparat penegak hukum, yang mengerti hukum, namun kenyataannya ikut mempermainkan hukum, sehingga hukumannya harus lebih berat dari rakyat biasa yang tak mengerti hukum. Profesionalitas kerja jaksa harusnya diimbangi dengan moral, nyatanya oknum petingginya pula yang memanfaatkan jabatannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompok dengan menjual hukum dan hati nurani rakyat.
Kalau Jaksa Agung tak tanggap, maka Presiden lah yang harus bertindak, dengan mencopot Hendarman Supandji. Dia dinilai gagal membersihkan jajaran Kejakgung yang ternyata sarat dengan penyamun yang merusak citra lembaga penegak hukum itu.
Namun kita tidak bisa gegabah. Bagaimanapun peristiwa ini harus dibuktikan di depan hukum, meskipun kita sangat pesimis dengan penegakan hukum di negeri ini.
Pesimistis kita cukup beralasan. Logikanya, kalau atasan saja berbuat seperti itu apalagi anak buahnya, apa tidak pesta pora? Di negeri maling, tidak ada yang mengaku maling. Kalau ada itu pasti ‘maling celuring’, maling dermawan yang membagikan hasil curiannya seperti dalam cerita dongeng itu. Tetapi bukankah negeri kita bukan negeri dongeng?

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s