Baju Koruptor

Oleh : R Giryadi

Koruptor akan dibuatkan baju seragam. Katanya biar nyahok! Biar urat malunya mencuat! Biar kapok alias jera! Pertimbangan lain, agar koruptor tidak seperti selebriti di persidangan. Biar sama dengan pesakitan yang lain, seperti pencuri ayam yang memang dari sononya sudah dekil. Pokoknya, mereka harus dibuatkan baju, biar tidak menyakiti hati rakyat yang uangnya dicuri.
Boleh juga ide itu. Kalau boleh usul, jika perlu dibuatkan upacara khusus untuk koruptor. Mereka yang pernah korupsi diwajibkan ikut upacara atau apel koruptor. Biar ingat terus, kalau korupsi itu merugikan negera. (Tetapi menyehatkan keluarga. Hemm).
Asyik, pasti. Mereka pakai baju seragam koruptor, setiap Senin, atau hari apa terserah, disuruh mengikuti apel. Buatkan juga mars koruptor. Slank, yang sudah tersohor itu mungkin bisa menjadikan lagu Gosip Jalanan, jadi lagu wajib saat apel. Sementara doanya, Doa Minta Kutukan dari Kyai Mbeling Emha Ainun Najib. Sementara rakyat disuruh menonton di atas podium, sambil mesem-mesem. Ini seperti drama jaman Yunani kuno.
Namanya drama, pasti tidak sungguhan. Namanya drama pasti ada yang dilebih-lebihkan, agar penonton lupa kalau itu sebuah drama. Penonton juga harus disuguhi speaktakel-speaktakel yang hebat dari para actor. Penonton harus tidak diberi waktu untuk berfikir. Mereka harus terhanyut dalam drama itu, sampai menguras air mata.
Saat rakyat atau penonton menyeka air matanya, para aktorpun melenggang. Di belakang panggung mereka tertawa-tawa sambil berpelukan. Saling berjabat tangan, sambil menyantap anggur dan daging burung unta.Mereka berganti baju. Mereka bukan lagi actor. Mereka orang biasa. Kostum yang dikenakan pun digantung di rak. Ia kemudian menghirup udara bebas. Mereka menjadi orang biasa.
Sementara rakyat atau penonton yang menyaksikan pertunjukan drama itu pasti akan mengingat-ingat adegan yang paling dramatis. Apakah saat Brutus menikam Caesar, dan darahnya muncrat dari dada kirinya, sementara Brutus tertawa. Atau saat seperti Caligula menyudahi kekuasaannya dengan cara ‘ngedan.’ Dramatis! Itulah yang terkesan dalam hati penonton.
Rakyat juga akan hanya mengingat dramatisasi kostum dan mike up-nya Artalyta saat disidang. Atau saat Artalyta menangis karena merasa teraniaya. Tetapi rakyat tidak tahu, bagaimana Artalyta tersenyum-senyum di ruang tunggu persidangan yang ber AC sambil kontak sana-sini. Bercanda dengan cucu-cucunya. Dan sesekali membuat scenario (drama pengadilan) dengan Urip Tri Gunawan dari ruang tahanan yang jelas ‘berkelas’.
Sekali lagi ini hanya drama. Baju itu hanya kostum. Usai drama pasti akan dilepas. Dan mereka akan melupakan. Karena baju itu tidak melekat pada dirinya. Baju itu hanya pinjaman. Seperti Christian Bale melepas costum Batman. Ia tidak lagi menjadi si manusia perkasa. Tetapi manusia biasa yang pengecut, karena menyiksa orang tuanya. Pada dasarnya baju tak memberikan dampak apapun pada proses hukum yang sedang berjalan. Ini bisa melanggar azas praduga tak bersalah. Yang lebih esensi pemerintah dan penegak hukum harus membuatkan scenario (pasal-pasal) yang memang benar-benar membuat jera para koruptor. Ini esensinya. Apakah benar, misalnya koruptor/penyuap seperti Artalyta itu yang sudah mengobrak-abrik wibawa pengadilan hanya dihukum lima tahun dan denda Rp 250 juta?
Apa benar para koruptor yang mengembalikan uang korupsinya terbebas dari sangkaan korupsi? Bagaimana dengan pencuri ayam, yang babak belur, kemudian bahkan tewas dihakimi massa? Siapa yang dihukum? Pencuri ayamnya atau massa?
Korupsi memang harus dicegah. Tetepi tidak cukup hanya membuatkan baju seragam. Dalam novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Korupsi, digambarkan sorang pegawai kecil yang jujur akhirnya tak tahan untuk tidak korupsi. Pasalnya ia merasa ada kesempatan berkorupsi dan sudah kapok melarat terus. Ia berkorupsi karena mentalnya lemah dan pengawasan kinerjanya juga lemah. Jadi persoalannya pada mental dan kesempatan!

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s