Dewapun Terangsang

Oleh : R Giryadi

Hanya pria tidak normal ketika melihat perempuan seksi tidak terangsang. Apalagi, kalau aksi dandanan perempuan itu cukup menantang. Belahan dada menyembul, pusarnya mengintip dari teng topnya, kemudian belahan pantatnya juga menyumbul karena celana yang dipakai sengaja diplorotkan (meski katanya lagi mode). Ck ck ck…
Atas nama mode, terkadang dandanan perempuan sangat berlebihan. Menantang, dan bikin hati pria dag dig dug ser. Jadi siapa salah, kalau sering terjadi pelecehan seksual? Ingatkah, kasus Dewi Persik yang digerayangi payudaranya? Siapa yang salah? Dandanan Dewi Persik yang memang seronok, atau tangan usil yang menggerayangi payudara Dewi Persik?
Apakah tangan usil itu, karena sering menggerayangi internet porno, atau tangan itu sudah bejat dari sononya? Atau jangan-jangan, istilah ada gula ada semut, ada ikan asin ada kucing, benar adanya? Tak ada akibat kalau tak ada sebab. Jadi siapa yang salah? Kok pertanyaan melulu!
Memang sulit. Masalah pornografi, tak bisa diselesaikan dengan hanya memblokir situs porno. Ingat, ketika seks dipingit secara naluriah, manusia akan mencari jalan lain. Nah, jalan lain inilah yang harus dipikirkan. Apakah jalan lain itu melalui kejahatan (pemerkosaan, pencabulan, atau yang lainnya) atau jalan yang lain, pemerintah atau siapapun tak bakal bisa memantau karena seksualitas adalah naluri manusia. Sewaktu waktu dan dimanapun bisa terjadi.
Kalau situs porno diblokir, siapa yang bisa memblokir ’chating porno’. Siapa yang bisa yang bisa memblokir blog (web log) atau semacam situs pribadi yang juga banyak yang menampilkan gambar-gambar merangsang. Membentengi moral, membentengi aksi kejahatan seksualitas, terlalu sederhana kalau hanya memblokir situs porno, apalagi hanya merasia internet, atau bahkan hanya menyita vcd porno.
Pornografi mempunyai sejarah yang panjang. Karya seni yang secara seksual bersifat sugestif dan eksplisit sama tuanya dengan karya seni yang menampilkan gambar-gambar yang lainnya. Foto-foto yang eksplisit muncul tak lama setelah ditemukannya fotografi.
Karya-karya film yang paling tuapun sudah menampilkan gambar-gambar telanjang maupun gambaran lainnya yang secara seksual bersifat eksplisit. Ada sejumlah lukisan porno di tembok-tembok reruntuhan bangunan Romawi di Pompeii. Salah satu contoh yang menonjol adalah gambar tentang sebuah bordil yang mengiklankan berbagai pelayanan seksual di dinding di atas masing-masing pintu.
Di Pompeii orang pun dapat menjumpai gambaran zakar dan buah zakar yang ditoreh di sisi jalan, menunjukkan jalan ke wilayah pelacuran dan hiburan, untuk menunjukkan jalan kepada para pengunjung (lihat Seni erotik di Pompeii). Para arkeolog di Jerman melaporkan pada April 2005 bahwa mereka telah menemukan apa yang mereka yakini sebagai sebuah gambaran tentang adegan porno yang berusia 7.200 tahun yang melukiskan seorang laki-laki yang sedang membungkuk di atas seorang perempuan dalam cara yang memberikan kesan suatu hubungan seksual.
Dalam jagad pewayang, kita mengenal Bethara Guru yang terangsang melihat Dewi Anjani yang sedang tapa di sebuah telaga. Tak disangka perasaan terangsan itu membuahkan benih percintaan, bahkan akhirnya melahirkan jabang bayi bernama Anoman. Konon, saking terangsangnya dengan Dewi Anjani, sperma Bethara Guru keluar. Dan sprema itu menempel ke daun asam yang masih muda (sinom). Secara kebetulan daun sinom itu termakan Dewi Anjani, sperma itupun membuhai Dewi Anjani. Karena berasal dari daun sinom maka anaknya diberi nama, Anoman.
Terangsangnya Bethara Guru apakah karena Dewi Anjani sengaja bersikap sensual? Atau karena memang sudah ditakdirkan begitu? Kenapa Bethara Guru bisa terangsang? Bukankah dia dewa yang integritas moral dan jiwanya sudah diakui? Apakah tindakan Dewi Anjani ini termasuk porno (padahal sebenarnya bertapa telanjang), sehingga merangsang Bethara Guru? Jadi porno itu apa?
Saya tidak bisa menjawabnya. Kalau dewa saja bisa terangsang, apalagi kita yang manusia. Namun sejarah mengatakan, ketika seks dipingit, malah banyak cara untuk melampiaskannya. Bahkan cenderung tidak terkendali. Hematnya, masalah pornografi, seksualitas adalah masalah manusia, bukan masalah piranti lunak. Karena masalah manusia, maka yang perlu digarap (diatur) adalah manusianya. Ingat, banyak jalan menuju roma. ’Tak ada jalan depan, lewan belakangpun bisa!’ (Awas jangan ngeres!). n

4 Komentar

  1. Ngaceng tenan, rek!

  2. good chat web

  3. masyaalloh! cik seksine…

  4. Urusan “ngaceng”-mengaceng, pasrahkan saja sama Binhad! Beres! O, ya. lupa, Mashuri leibh mufaqqih karena dia pemilik lisensi istimewa untuk nama itu😀
    @Mashuri: mana bukumu?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s